Halaman


Prabowo Subianto For Presiden

Kamis, 03 Mei 2012

KELUARGA APRILIA MENOLAK PERAWATAN DI RSCM

Keluarga Aprilia, bayi berusia 4 hari, yang menderita penyakit anensifalii atau dikenal pertumbuhan otak tidak sempurna menolak dilakukannya perawatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi. Penolakan itu, lantaran biaya operasional keseharian hidup di rumah sakit tersebut. Kini, Aprilia yang tinggal di Kampung Babelan RT 01 RW 01, Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Jawa Barat, hanya menjalani perawatan dengan alat sederhada berupa Inkobator kardus dengan lampu penerangan 5 watt. Putri pertama dari pasangan Hartono (19) dan Dini Aulia (14), ini mengalami Anensefalii sejak didalam kandungan. Kondisi tersebut baru terlihat setelah 7 bulan dalam pemeriksaan USG Rumah Sakit Tiara Babelan. "Periksa kandungan hanya di bidan dan puskesmas. Setelah usia 7 bulan baru terlihat Aprilia ngak ada tempurung kepala," tutur Sutina (39) nenek dari Aprilia di kediamannya. Delapan bulan kelahirannya, tepatnya tanggal 28 April 2012, sekitar pukul 10 malam dengan berat badan 1,7 kilo dan panjang berukuran 30 centimeter. "Bidan suruh rujuk ke RS Tiara. Dari RS Tiara dirujuk ke RSCM," kata Sutini yang merawat Aprilia. Selama satu hari Aprilia mendapat perawatan di RSCM Jakarta tanggal 29 April 2012. "Keluarga minta cucu saya untuk dipulangkan agar dirawat sendiri," tutur Sutini lagi dengan alasan tidak mampu biaya operasional kesehariannya ke rumah sakit lantaran juga dokter mengatakan soal vonis hidup Aprilia. Padahal, dokter spesialis anak RSCM Jakarta baru kali pertama menangani pasien Aprilia. Hari ini, sekitar pukul 10.30 WIB, Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi bersama Puskesmas Babelan Kota menjemput pasien Anensefalii (Aprilia-Red) untuk mendapat perawatan intensif di RSCM Jakarta dengan biaya yang ditanggung pemerintah daerah. Kendati pasien Aprilia telah divonis hidup umur, namun pemerintah daerah mencoba untuk mengintensifkan perawatan tersebut. "Kami sudah berusaha memotivasi keluarga pasien dirawat ke RSCM, namun keluarga menolaknya," kata Kepala Dinkes Kabupaten Bekasi Dr H Ari Muharman kepada wartawan. Kemungkinan hidup pasien tipis, karena otaknya mengalami ketidak sempurnaan. "Pihak keluarga telah menandatangani surat pernyataan kedua yang dibuat Dinkes Kabupaten Bekasi, bahwa keluarga menolak untuk mendapatkan perwarawan yang diakomodir pemerintah daerah," demikian Dr. Ari Muharman. (Dma/Dhi). Live from BlackBerry® on AHA - I like it!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar