Halaman


Prabowo Subianto For Presiden

Minggu, 13 Mei 2012

OBROLAN SANTAI (OBLOS) CODE SMUTs; MARI TERUS BELAJAR TELADAN

Ada seorang kawan yang kebetulan dipercaya menjadi Wakil Rakyat di DPRD Kota Bekasi mengontak melalui pesan dan telpon sekali ke salah satu nomor saya. Kebetulan beliau pimpinan di salah satu Komisi dan giat melakukan berbagai gerakan untuk merubah pola, sikap dan perilaku (PSP) masyarakat agar perubahan terasa bukan saja hanya selentingan terdengar. Siapa tak kenal Ronny Hermawan? Sederhana dan punya banyak kesan dimata banyak orang di kota Bekasi yang terus giat melakukan perubahan dengan pembangunan, baik fisik maupun supra struktur-nya. Saya terkesan karena ide itu sangat sederhana; Sajikan Teladan-Teladan yang baik agar orang paham keteladanan itu ada dan berharga bagi masyarakat. Kali ini saya mulai dari Bupati Blitar, Jawa Timur, yang merupakan salah satu sosok teladan yang sederhana dan bersahaja sebagai pemimpin disuatu daerah. Selama 10 tahun kepemimpinan H. Herry Noegroho SE., MH., sang bupati tidak pernah mengganti-ganti mobil dinas seperti kebanyakan pemimpin bangsa dan negara ini yang tidak bosan-bosan mengganti kendaraan. Satu hal jelas dari tauladan pak H. Herry adalah efesiensi anggaran pendapatan dan belanja (APBD) Kabupaten Blitar yang tentunya merupakan pemahaman dari berbagai peraturan perundang-undangan yang meminta aparatur paham akan arti efisiensi bukan hanya kata itu dan lecture menurut cita rasa pengendali keuangan rakyat. Harus diakui, Harga Mercy Tiger tentu sangat jauh dibandingkan harga Toyota Inova, itu apabila seorang pimpinan tidak tahu diri mengoleksi hobby pamer mobil saat non dinas. Atau Alpard, Lexus LS dan IS, Daimler Maybach 62S, Range Rover, Pajero Sport dan beberapa type yang lain merupakan kendaraan pilihan "gonta-ganti" kendaraan pejabat (ada yang harganya lebih dari Rp. 2 milyar dibeli dengan APBD). Sayang hal tersebut harus dibayar keringat rakyat yang terus mengering dan bahkan sudah menjadi guratan garam dibusana yang mereka pakai. Bekerja tanpa lelah, kaki dijadikan kepala, kepala dijadikan kaki, makan pun harus berhutang beras di warung setiap waktu-waktu apes mereka. Kebiasaan buruk tersebut (beli mobil dinas atau pribadi (mungkin dari kelebihan rejeki APBD) semakin membabi-buta tidak pernah dipikirkan oleh Presiden sampai dengan Lurahnya. Coba berkaca pada Bupati Herry Noegroho dan kawan-kawannya yang lain yang sering dianggap sepele karena mereka sudah menjadi raja-raja kecil di Indonesia. Pak Herry dalam berbagai kesempatan menjawab pertanyaan wartawan, sangat jujur bahwa dengan apa yang dilakukannya akan membuat banyak kebijakan fokus pada kehidupan pembangunan masyarakatnya. Efesiensi anggaran sangat terasa sekali dengan kompensasi yang cukup untuk kegiatan-kegiatan lain yang dapat dirasakan langsung kemasyarakat. Prilaku sederhana membuat banyak orang yang dia pimpin menjadi paham budgeting pro-rakyat itu seperti apa dan dampaknya pada kehidupan masyarakat yang lebih luas bagaimana. APBD tidak pernah tersendak karena banyaknya program prioritas seperti sekolah rusak, puskesmas kekurangan obat, usaha kecil kekurangan modal harus mengalah dengan anggaran pemenuhan belanja non publik yang tinggi. Ada baiknya kita belajar pada ketulusan dan kesungguhan seseorang yang menerapka prilaku sederhananya dalam memimpin masyarakat di bangsa dan negara yang masih memiliki banyak orang seperti pak Herry. Karena dengan demikian kita menjadi tahu, bangsa apakah dan negara seperti apakah kita. (Don).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar