Halaman


Prabowo Subianto For Presiden

Minggu, 22 Januari 2012

RAZIA MIRAS DI TANGGERANG DIINTENSIFKAN

Razia minuman keras tanpa henti dilakukan aparat Satuan Polisi Pamong Praja Pemerintah Kota Tangerang, Banten, meski Peraturan Daerah No. 7 tahun 2005 tentang masalah itu akan direvisi oleh aparat Kementerian Dalam Negeri. "Tugas kami adalah menegakkan Perda, maka razia tentang penjualan minuman keras terus dilakukan," kata Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Tangerang, Irman Puja Hendra. Dia mengatakan, pihak tidak pernah berhenti melakukan operasi penertiban penjualan minuman keras kepada sejumlah pedagang. Pernyataan Irman Puja Hendra tersebut sehubungan pihak Kementerian Dalam Negeri melakukan revisi terhadap Perda No. 7 tahun 2005 tentang penjualan dan peredaran minuman keras di Kota Tangerang. Menurut dia, pihaknya tidak menghiraukan adanya revisi tersebut karena peredaran minuman keras di wilayah ini sudah dalam tahap meresahkan penduduk. Para pedagang dengan bebas menjual minuman keras dengan kadar alkohol tinggi pada wilayah tertentu, maka tindakan yang terbaik adalah dengan melakukan razia penertiban. Sejak empat bulan terakhir ini, aparat Satpol PP telah menyita sekitar 13.000 botol minuman keras yang dijual pedagang dengan kadar alkohol tinggi melebihi 45 persen. Menyangkut adanya revisi Perda tersebut, maka dia mengatakan belum mendapatkan tembusan tertulis tentang pencabutan dari aparat Kementerian Dalam Negeri. Petugas Satpol PP, katanya, semakin memperketat pengawasan peredaran minuman keras, karena informasi pencabutan Perda membuat pedagang mulai memberanikan menjual secara bebas. Bahkan penjualan dilakukan secara bebas di wilayah perbatasan dengan DKI Jakarta, seperti di Kecamatan Batuceper dan Ciledug. Sebelumnya, ratusan warga yang peduli terhadap pemberantasan penjualan minuman keras melakukan aksi demo ke kantor Pemkot Tangerang, mereka menuntut supaya razia peredaran minuman beralkohol itu selalu dilakukan. (ANt/Don).

PLT. WALIKOTA BEKASI YAKIN SIPON KURANGI BANJIR

Pemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, optimistis proyek pembangunan sipon di Bendung Kali Bekasi mampu mengurangi lokasi banjir di kawasan setempat. "Sebentar lagi proyek itu rampung. Kota Bekasi akan turut menikmati manfaatnya karena titik-titik banjir, utamanya di bagian hulu Kali Bekasi bisa teratasi," ujar Pelaksana Tugas Walikota Bekasi Rahmat Effendi usai meninjau persiapan Imlek di Bekasi, Jumat. Menurut dia, sipon sepanjang 98 meter ditangani langsung Kementerian Pekerjaan Umum di bendung Kali Bekasi, Jalan Hasibuan, Bekasi Timur, yang merupakan titik pertemuan air dari Tarum Barat dengan Kali Bekasi. Dengan adanya sipon, air dari kedua saluran tersebut tidak akan bertemu. Sebab air dari Tarum Barat akan mengalir melalui sipon menuju Kali Malang. Bagi warga DKI Jakarta, manfaat yang dirasakan dengan keberadaan sipon ini, air baku mereka yang disuplai dari Kali Malang tak perlu bercampur dengan air asal Kali Bekasi yang tercemar limbah pabrik dan domestik. "Sementara bagi warga Kota Bekasi, kehadiran sipon dapat mengurangi beban di bendung Kali Bekasi. Kalau airnya sudah beda saluran, saat debit air tinggi di Kali Bekasi, pintu bendung bisa dibuka. Dengan demikian, debit air di Kali Bekasi pun turun, sehingga perumahan di sekitar hulu yang selama ini kerap tergenang bisa bebas banjir," ujar Rahmat. Dikatakan Rahmat, pengurangan banjir pascapembangunan sipon berada di hulu Kali Bekasi. Antara lain, Perumahan Pondok Gede Permai, Kemang Ifi, Vila Jatirasa, Pondok Mitra Lestari, Kemang Pratama, dan Taman Century. Rahmat menambahkan, kehadiran sipon juga akan berdampak pada pengurasan dan pengerukan, sehingga sedimentasi pun bisa dikurangi. Upaya demikian terakhir kali dilakukan pada 1976. (And).

POLRESTA METRO TANGGERANG USUT KEMATIAN INEKE

Aparat Polresta Metro Tangerang, Banten, terus mengusut penyebab kematian Ineke Gandaprajitna atau Ineke (39), warga perumahan Victoria Park, Kelutahan Nusajaya, Kecamatan Karawaci. Polisi menemukan 20 tusukan pada tubuhnya. "Kami sudah mendapatkan keterangan dari sejumlah warga di lokasi kejadian maka saat ini sedang diusut," kata Kasat Reskrim Polresta Metro Tangerang, Kompol Rahmat dihubungi di Jakarta, Sabtu (21/1/2012). Dia mengatakan, petugas juga sudah melakukan pelacakan ke lokasi tertentu yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan. Pernyataan Rahmat tersebut sehubungan Ineke ditemukan bersimbah darah di dalam rumahnya di Perumahan Victoria Park, Kelurahan Nusajaya Karawaci, Kamis (19/1/2012) malam pada tubuhnya terdapat sebanyak 20 tusukan. Semula tetangga korban curiga tidak ada tanda kegiatan di rumah itu meski terdapat kendaraan jenis jip warna perak dengan nomor polisi B-1579-CEP yang biasa parkir. Para tetangga berupaya menyapa dari luar, tapi tidak ada tanggapan dari dalam rumah, sehingga memanggil warga lainnya, padahal korban biasanya berdua tinggal dalam satu rumah dengan adiknya. Bahkan, warga secara paksa membuka kunci rumah dengan linggis disaksikan petugas dari kepolisian Sektor Metro Karawaci. Setelah itu, polisi menemukan korban sudah tergeletak di dalam rumah berlumuran darah di lantai II. Pihaknya, kata Rahmat, belum mengetahui motif pembunuhan tersebut walau dalam olah tempat kejadian perkara tidak ditemukan barang berharga yang hilang. Saat ini polisi terus memburu adik korban yang identitasnya sudah diketahui karena ketika kejadian tidak berada di lokasi. Namun, korban baru menempati rumah tersebut tiga bulan lalu dan bekerja pada sebuah perusahaan swasta di Jakarta Pusat. Berdasarkan olah tempat kejadian perkara, terdapat 20 luka bekas tusukan di tubuh Ineke Gandaprajitna (39). Ineke ditemukan tewas bersimbah darah di kamarnya, Jalan Rama Raya 2 Blok 1-3 Nomor 22, Perumahan Victoria Park Residence, Karawaci, Kota Tangerang, Kamis (19/1/2012). "Luka tusukannya menyebar di dada, perut, punggung, dan leher," kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestro Tangerang Kota Ajun Komisaris Besar Rachmad Santoso, Jumat (20/1/2012). Jasad Ineke ditemukan dalam posisi telentang di kamar tidur lantai dua. Ineke mengenakan kaus oblong putih bermotif kembang dan celana pendek. "Di tangga terdapat bekas ceceran darah," ujar Rachmad. (Ant/Kop).

5 SISWI SMPN 1 DEPOK DIHIPNOTIS

Siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Depok, Zavira Kristina (13), diculik oleh seorang pemuda saat berjalan dengan empat orang temannya. Sebelumnya pelaku menghipnotis lima orang siswi SMP tersebut. Kejadian berawal saat Zavira pulang sekolah bersama teman-temannya yaitu Salsa Nabila (13), Fitra Handayani (13), Silva Amalia (13), Tri Lestari (13), pukul 12.00 WIB, Jumat (20/1). Saat berada di pertigaan Jln Siliwangi dn Jln Margonda Raya, Kota Depok, mereka dihampiri oleh seorang pemuda. Lelaki tersebut mengaku sebagai mahasiswa UI. Pemuda tersebut kemudian menanyakan di mana lokasi SMPN 3. "Pertama, tanya SMP 3 di mana, akhirnya dia ngajak ngobrol," kata Salsa saat ditemui sedang melaporkan kejadian yang dialaminya di Kantor Polres Kota Depok, Jln Margonda Raya. Tiba-tiba mereka seperti dihipnotis dan tidak ingat apa-apa. Bahkan tiga siswa tersebut memberikan telepon genggam miliknya pada pelaku. “Kami tidak ingat apa-apa, malah langsung memberikan HP kami,” kata Salsa. Pemuda itu pun mengajak mereka pergi ke kantornya di Depok Lama dengan dalih ada pakaian yang akan ditawarkan. Awalnya pelaku ingin membonceng dua orang yaitu Salsa dan Zavira. Namun tawaran itu ditolak karena takut ditilang polisi. Di tengah jalan, Zavira pun tiba-tiba sadar. Dia kemudian menangis dan meminta turun. Khawatir aksinya ketahuan, pelaku kemudian menurunkan Zavira di Stasiun Depok. "Dia seperti penjual baju, saya keburu nangis dan sadar," kata Salsa. Mereka berlima didampingi oleh keluarganya melaporkan kejadian tersebut ke Polresta Depok. Saat ditanya petugas di Sentra Pelayanan Kepolisian, Zavira kebanyakan diam, ia masih trauma atas kejadian itu. "Kalau HP tidak apa-apa, tapi ada juga yang dibawa dan tidak pulang," kata Dedi. Mereka tidak bisa mendeskripsikan wajah pelaku dengan jelas. Mereka hanya mengatakan bahwa pelaku seorang pemuda dan bergaya seperti mahasiswa, memakai jeans dan baju kaos warna putih. "Saya tidak bisa cerita, kalau melihatnya saya kenal kok," kata Silva. Sementara itu orang tua Salsa Nabila, Dedi Rohaedi (36), meminta agar polisi bisa menangkap pelaku tersebut. Pelaku dianggap meresahkan warga karena korbannya adalah anak sekolah. "Orang itu mengaku Mahasiswa UI, kami takut mereka dibawa lari," kata Dedi. Sementara itu Wakapolres Kota Depok, Ajun Komisaris Besar Ahmad Musthofa Kamal, mengatakan polisi akan melakukan penyelidikan terlebih dahulu mengenai kasus ini. Di mengimbau agar warga mewaspadai bila ada orang tak dikenal yang menyapanya. “Bersikap hati-hati dan waspada, jangan gampang mempercayai orang yang baru dikenal,” ujarnya. (Pra).

REKTOR UI MENGELAK ADANYA PENYELEWENGAN

Rektor universitas Indonesia (UI), Gumilar Rusliwa Somantri, terkejut dengan adanya dugaan dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) bahwa UI telah merugikan keuangan negara Rp 43,8 miliar. Hal itu disampaikan pada Ketua Tim Kuasa Hukum UI, Surya Nataatmadja, saat melakukan pertemuan dengan Gumilar(19/1). “Rektor merasa heran, padahal semua proyek yang dituduhkan ini lengkap tidak ada kekurangan uang negara. Jadi rektor tidak merasa seperti itu (menyelewengkan uang negara),” ujar Surya saat dihubungi, Jumat (20/1). Dia mengatakan, sampai saat ini UI belum menentukan langkah yang akan dilakukan untuk menanggapi hasil pemeriksaan BPK tersebut. Bahkan dirinya belum membaca salinan hasil audit BPK tersebut secara resmi. “Ya saya sudah baca di media, tapi belum membacanya secara resmi,” kata Surya. Meskipun demikian, Surya mengaku belum secara resmi dilibatkan oleh rektorat untuk menangani kasus tersebut. Dirinya memang dijadwalkan melakukan pertemuan dengan Rektor UI pada Jumat sore. Namun pertemuan itu tidak untuk membahas masalah audit BPK, melainkan acara Ikatan Alumni UI yang akan diselenggarakan, Sabtu sore (21/1). “Saya belum bisa memberikan tanggapan karena belum membicarakan itu dengan rektor,” ujarnya. Hal senada juga disampaikan Kepala Kesekretariatan Rektorat UI, Devie Rahmawati. Dia mengatakan baru menerima berkas dari BPK Jumat kemarin. “Belum ada tanggapan apa-apa karena belum dibaca, ini baru mau dibuka,” ujarnya. Dia mengatakan, rektorat akan menelaah terlebih dahulu salinan hasil audit BPK dengan seksama. “Nanti pada waktunya kita tanggapi,” ujarnya. Sebelumnya anggota BPK, Rizal Djalil, menyatakan bahwa UI diduga merugikan keuangan negara sebesar Rp 43,8 miliar. Kerugian itu terjadi saat alih fungsi lahan asrama mahasiswa Pegangsaan Timur 17 (PGT) dan keterlambatan penyerapan dan kerjasama dengan JICA. (Pra).

HUBUNGAN INDUSTRIAL TERKOYAK KARENA UPAH

Reaksi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang melakukan gugatan terhadap Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengenai upah minimun kabupaten/kotamadya (UMK) dinilai kontraproduktif. Pasalnya, hal itu bukannya menyelesaikan masalah, melainkan justru memperkeruh suasana. "Reaksi keras dari Apindo justru saya nilai kontraproduktif karena faktanya bisa terlihat dari terkoyaknya harmonisasi hubungan industrial melalui berbagai aksi buruh yang disertai dengan pembangkangan berupa pemblokiran jalan," ujar Wakil Ketua Komisi VI Erik Satrya Wardhana, Sabtu (21/1/2012). Ia mengimbau semua pihak untuk saling introspeksi, jangan memperuncing polemik di luar konteks penyelesaian substansi masalah, yaitu ketetapan upah secara adil dan bermartabat. "Jangan sampai terjadi ironi pada negeri ini, di tengah pemerintah memamerkan keberhasilan menggawangi makro ekonomi dengan raihan investment grade, tapi jantung iklim investasi, yaitu hubungan industrial, terkoyak karena masalah mendasar, yakni upah," tutur Erik. Ia mengingatkan, polemik menyangkut upah berpotensi terjadi setiap tahun. Langkah-langkah yang kontraproduktif yang memicu kericuhan akan berdampak serius pada iklim investasi dan daya saing nasional. Menurut Erik, polemik mengenai upah terjadi karena tiga faktor. Pertama, lemahnya kapasitas kelembagaan di level dewan pengupahan yang terdiri dari unsur tripartit, yaitu buruh, pengusaha, dan pemerintah, sehingga ketidakpuasan atas ketetapan upah membuka peluang ditempuh melalui jalur lain di luar forum tripartit."Dalam kasus Bekasi pengusaha mem-PTUN-kan keputusan upah, sedang buruh merasa tidak dihormati kesepakatannya, lalu mengerahkan massa," kata dia. Kedua, paradigma upah dalam hubungan industrial masih dinilai sebagai pengeluaran (cost), bukan bagian dari investasi yang dapat memicu produktivitas. Ketiga, ambiguitas pemerintah, sebagai wasit antara pengusaha dan buruh, cenderung membiarkan kedua unsur bertarung begitu saja dan terkesan mengabaikan dampak-dampaknya. Seperti diberitakan, mulanya UMK Bekasi ditetapkan Rp. 1.356.242 untuk kelompok I, Rp. 1.514.117 untuk kelompok II, dan Rp. 1.626.287 untuk kelompok III. Melalui SK Gubernur Jabar Nomor 561/Kep.1540-Bansos/2011, UMK Bekasi dikoreksi menjadi sebesar Rp. 1.491.866, upah kelompok II Rp. 1.715.645, dan upah kelompok III Rp. 1.849.913. Putusan baru inilah yang digugat Apindo melalui PTUN Bandung. Ribuan buruh Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, lantas melakukan aksi unjuk rasa mendesak Apindo mencabut gugatannya. Merespons aksi unjuk rasa yang melumpuhkan kawasan industri Cikarang, Apindo membuka negosiasi baru dengan menawarkan kenaikan upah minimum kabupaten/kota (UMK) Bekasi sebesar 10-20 persen. Asosiasi menilai kenaikan ini sudah melampaui perhitungan kebutuhan hidup layak. (Kop).

REMAJA LAKI-LAKI DIDUGA TERJANGKIT FLU BURUNG

Seorang remaja lelaki warga Mekarsari, Kabupaten Tangerang, berinisial Ro (18), diduga menderita gejala flu burung. Pada Sabtu (21/1/2012) ini pukul 13.45, Ro masuk ke ruang Isolasi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tangerang, setelah sempat dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Karawaci, Kota Tangerang sejak Jumat (20/1/2012) dini hari. "Saat masuk pasien dalam kondisi buruk. Demam tinggi, sesak nafas. Petugas langsung memberikan bantuan pernafasan," kata Direktur Utama RSUD, MJN Mamahit, Sabtu sore. Mamahit mengatakan, berdasarkan riwayat kesehatan pasien telah mengalami demam sejak 6 hari lalu. Pada Rabu (18/1/2012) lalu, Ro mengalami gangguan suara, nafas sesak. Tetapi pasien tidak ke dokter melainkan minum obat yang dibeli dari warung. Pada hari Jumat sekitar pukul 04.00, pasien dilarikan ke rumah sakit swasta di Karawaci. Namun, karena kondisi terus memburuk, pasien dibawa ke RSUD Tangerang. (Kop).