Jumat, 04 Mei 2012
BAYU MENJADI KORBAN TEWAS DALAM TAWURAN PELAJAR DI BEKASI
Bayu Dwi Kurniawan (16) menjadi korban tewas akibat tawuran antarpelajar di Bekasi Kamis (3/5/2012). Sementara itu Rahmani Adli dan Muhaji Adenan kini maish kritis dan mendapat perawatan di RS Mitra Keluarga.
Informasi dari Kepolisian Sektor Kota Bekasi Timur mengungkapkan, ketika Kepala Unit Reserse Kriminal Iptu Harry Gasgari dan timnya datang ke lokasi, di Jalan Ampera, Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, para pelajar yang tawuran telah bubar. Dari pengecekan di dua rumah sakit, polisi menemukan tiga orang pelajar menjadi korban tawuran tersebut.
Di RSU Kota Bekasi didapatkan Bayu sudah meninggal dunia dengan luka-luka bacok di kepala belakang, bahu, tangan kanan, pinggul kanan, dada, muka, dan pantatnya. Sedangkan di RS Mitra Keluarga Bekasi Timur didapatkan Rahman dan Muhaji dalam kondisi kritis. Keduanya juga mengalami luka bacok di kepala belakang, pundak, telinga, dan punggung.
Dua pelajar rekan para korban, Rifki (17) dan Agus (17), kepada polisi mengatakan, mereka sedang main ke Bekasi. Tiba-tiba di Jalan Ampera tersebut mereka diserang sekelompok pelajar. (KKM).
SEKRETARIS DPD PKS: SABAR SAJA, NANTI JUGA TAHU HASIL SELEKSI BAKAL CALON DARI PKS
Ramai-ramai mempersiapkan diri menjelang pesta demokrasi pemilihan kepala dan wakil kepala daerah kota Bekasi mulai terasa usai pelantikan Ketyua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan Walikota pengganti M2 yang terpenjara. Semuanya menyatakan siap untuk menyukseskan pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) kota Bekasi pada Desemper 2012 nanti.
Sebut saja Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang secara khusus menyiapkan kandidatnya melalui panitia screning yang menyeleksi kualifikasi 5 kandidatnya. "Insya Allah daklam waktu dekat sudah ada hasilnya," kata H. Bali Pranowo saat dimintai keterangan hasil tim seleksi di partainya.
Ketika didesak siapa nama yang memiliki peluang untuk mewakili partainya, Bali mengangguk serius ketika 3 (tiga) nama disebutkan sebagaui kandidat kuat mewakili partainya. Namun dirinya berharap semua bersabar menunggu diumumkannya hasil kerja tim khusus dalam menyekleksi dari 5 kandidat yang sudah dihasilkan partainya.
Ketiga nama yang santer disebut sebagai kandiodaqt mewakili PKS untuk maju dalam pertarungan pemilihan Walikota/ Wakil Walikota Bekasi tersebut adalah Akhmad Syaikhu, Hery Koeswara dan Chairoman Putro Juwono. "Ya memang benar ketiga nama tersebut yang saat ini kansnya lebih besar dalam seleksi," kata Bali seusai pertemuan Keluarga IKKP di Balai Patriot.
Namun Bali Pranowo juga tidak menampik bahwa nama Akhmad Syaikhu sampai saat ini masih menjadi calon yang paling didukung di internal PKS saat ini. "Kalau diinternal PKS ustadz Syaikhu yang paling didukung sampai saat ini," tambahnya lagi mencoba menggambarkan suasana hati PKS jelang pemilukada Kota Bekasi.
Hal senada disampaikan Dadi Kusradi, sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PKS Kota Bekasi, saat ditemui disela-sela sosialisasi Pemilukada oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bekasi. Soal waktu Dadi mengiyakan penyampaian Bali Pranowo, bahwa minggu-minggu awal Mei 2012 merupakan momen diketahuinya kandidat dari PKS Kota Bekasi untuk pemilukada kota Bekasi.
Namun Dadi enggan menyebut nama terkait proses pemilihan bakal calon dari PKS untuk maju dalam pemilukada kota Bekasi. "Sabar aja, sebentar lagi juga masyarakat Bekasi akan tahu siapa kandidat hasil seleksi bakal calon yang dilakukan PKS untuk pemilukada kota Bekasi," katanya. Don).
ANGKA PENGANGGURAN MELONJAK SAMPAI 27 JUTA
Hari buruh 1 Mei lalu, barangkali masih tepat bagi karyawan untuk menuntut pemerintah di setiap negaranya menyelenggarakan lapangan kerja yang lebih luas. Di tahun 2012 ini, dunia menghadapi tantangan ketenagakerjaan secara serius. Sejak krisis di Amerika dan Uni Eropa, jumlah pengangguran melonjak 27 juta menjadi 200 juta pengangguran secara global.
Fakta tersebut menjadi laporan dalam hasil riset International Labour Organization (ILO) mengenai tren ketenagakerjaan global 2012.
Diperlukan lebih dari 400 juta lapangan kerja baru untuk menghindari adanya peningkatan pengangguran secara global. Dalam laporan ILO tersebut, juga disebutkan, untuk menciptakan pertumbuhan yang sustainable dengan kohesi sosial, dunia harus melawan tantangan utama dengan menciptaan 600 juta lapangan kerja produktif selama dekade kedepan.
Meski demikian, hal itu pun masih meninggalkan 900 juta pekerja yang hidup dengan keluarganya diambang garis kemiskinan, dengan pendapatan dibawah US$2 perhari. (*).
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!
THE DOCTOR KOMITMEN SELESAIKAN RPJMD
Dr.H.Rahmat Effendi telah resmi dilantik menjadi Walikota Bekasi untuk sisa jabatannya sampai dengan Maret 2013 mendatang. Dengan tersisa sekitar 8 bulan masa kerjanya, Walikota Bekasi, yang akrab disapa Bang Pepen ini, berkomitmen untuk menyelesaikan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bekasi hingga akhir masa jabatannya.
Walikota Bekasi tersebut juga mengatakan bahwa beliau merasa optimis dengan capaian-capaian RPJMD yang telah dilakukan saat ini.
”Sekarang ini, tahapan capaian–capaian RPJMD sudah hampir seluruhnya tercapai, seperti tahapan jalan, Index Pembangunan Masyarakat (IPM), dan bahkan untuk kesehatan, tahapannya sudah melampaui target yang ada dalam RPJMD”, jelas Dr.H.Rahmat Effendi.
Lebih lanjut, Walikota Bekasi ke-4 sepanjang sejarah Kota Bekasi ini mengatakan, pengisian kekosongan pejabat di lingkungan Pemkot Bekasi pun akan dilihat dari kinerja para aparatur yang sudah diatur dalam Peraturan Walikota Nomor 2 Tahun 2012 tentang penilaian kinerja Pegawai Negeri Sipil.
Beliau menambahkan, yang lebih utama adalah tujuan akhir dari visi misi Kota Bekasi yakni Cerdas, Sehat dan Ihsan, dimana pembangunan peradaban yang sedang dilakukan Pemkot Bekasi akan menghasilkan output penyelesaian RPJMD. (*).
PRAHARA PEKERJA TELEVISI
Tersebutlah seorang reporter televisi bernama Tari. Dia menghadapi dilema: melanjutkan karir demi cita-cita menjadi pembaca berita atau pindah kerja demi gaji besar supaya cepat melunasi utang.
Tari, dalam novel "23 Episentrum" karya Adenita, terbitan Grasindo, Maret 2012, adalah reporter baru bergaji Rp2,5 juta sebulan, gaji yang sebenarnya besar jika dibandingkan rata-rata reporter baru di media massa lain.
Dengan gaji sebesar itu, Tari merasa pekerjaan tersebut hanya memberikan kesenangan bagi dirinya, tapi tidak untuk target-targetnya sebagai lulusan baru sebuah perguruan tinggi terkemuka.
Kebutuhan akan gaji besar itu makin membebani ketika tiga kawannya yang pernah mengutangi Tari untuk menyelesaikan kuliah, menagih. Total tagihan sebesar Rp. 8 juta itu datang ketika dia baru delapan bulan menjadi reporter.
Itu baru sebagian kecil utang Tari.
"Memang bukan angka yang fantastis bagi sebagian orang, tapi bagi dirinya yang kala itu tak tahu harus mencari sumber dari mana lagi, angka itu sungguh membuatnya pusing bukan main," demikian novel itu.
Pindahkah Tari dari televisi itu ketika lamarannya di perusahaan lain diterima? Di sana dia bakal mendapat gaji tiga kali lipat dari gajinya sebagai reporter.
Lewat Tari, Adenita, yang juga mantan pekerja berita televisi, membuat cerita tentang balada seorang reporter.
Paparannya yang rinci dan tidak tergesa-gesa, membuat dia membenarkan satu ungkapan bahwa pekerjaan wartawan pada umumnya memang menyenangkan tapi tidak mensejahterakan.
Kekurangan materi sang wartawan itu langsung dibandingkan dengan sahabatnya yang pegawai bank dan seorang lagi yang pekerja sebuah perusahaan pengeboran minyak.
Wartawan boleh saja makan siang dan berbincang dengan pejabat tinggi atau artis papan atas sambil makan siang di sebuah hotel berbintang. Tapi setelah itu dia harus kembali ke kantor dengan kendaraan umum yang pengap dan padat atau naik ojek untuk mempercepat perjalanan.
Adegan Tari menumpang Metromini terekam baik dalam novel ini.
Pengalaman Adenita membuat pemaparannya soal Tari begitu rinci, mulai keakraban dan keriangan awak media, beban pekerjaan yang begitu tinggi, hingga beragam istilah yang dipakai awak televisi saat siaran berita.
Pun ketika dia memaparkan ketegangan saat Tari ketiban berita melalui hidung kewartawanannya yang mengendus berita besar soal penampilan mantan presiden yang sudah dua tahun tidak muncul di hadapan umum.
Berita dan gambar yang dibuat reporter itu meledak. Berita dan gambar tentang sang mantan presiden yang lemah karena sakit itu membuat untung perusahaannya. Tapi tidak buat sang reporter.
Adenita berhasil menggambarkan betapa pekerjaan kewartawanan begitu kuat mencengkeram orang yang terjerumus di dalamnya, teracuni oleh warna-warni yang terus berubah setiap hari dalam pekerjaannya, dan membuat tekanan waktu tenggat melupakan sejenak kewajiban memenuhi kebutuhan yang mendesak.
Menikmati Tari, pembaca akan mendapat informasi banyak mengenai kehidupan wartawan televisi, profesi yang kini menjadi incaran anak muda.
Perjalanan cerita tentang Tari yang agaknya ditarik dari pengalaman sang penulis terlihat jauh lebih kuat ketimbang cerita tentang dua tokoh utama lain di novel ini.
Cerita tentang Awan, pekerja bank yang ingin jadi tukang cerita, dan Prama, sahabat Awan yang kaya raya karena bekerja di pengeboran minyak perusahaan asing, tidak lebih rinci.
Bahkan, ketika cerita masuk ke dunia pekerjaan Prama, ada dialog dan penggambaran yang kaku walau tak mengganggu kenikmatan mengikuti dialog soal persahabatan, pencarian kebahagiaan, dan semangat berbagi tanpa uang.
Banyak juga dialog antara Tari, Awan, dan Prama yang "terlalu pintar", "terlalu bijak", dan "terlalu mengerti hidup" bagi orang seumuran mereka.
Boleh jadi ini disadari penulisnya sehingga ada kalimat berbunyi: "Eh, tumben lu pintar....," atau "Macam betul aja omongan kau....," atau "Cieee... tumben omongan lo bener."
Boleh jadi juga, sang penulis novel ini, dalam usianya yang belum bisa disebut tua, sudah belajar begitu banyak mengenai hidup. Bisa saja ketika bertemu dengan begitu banyak sumber berita ketika bekerja, dia juga mempelajari hidup, terutama soal uang dan kebahagiaan.
Yang pasti, dia belajar khusus dari 23 orang dari beragam pekerjaan, yang profilnya dia tulis menjadi buku. Buku tentang 23 orang itu menjadi sisipan buku "23 Episentrum".
Mengenai uang dan kebahagiaan itu, ada dialog panjang yang mengharukan antara Awan dengan ibunya. Dialog soal keinginan Awan meninggalkan pekerjaannya di sebuah bank besar dengan gaji menjanjikan dan sang ibu yang tak mengerti akan keinginan anaknya pindah haluan menjadi penulis cerita film, sebuah pekerjaan yang tak menjanjikan.
Juga dialog panjang dengan penjual sarung yang membangkitkan kesadaran Prama bahwa ada orang yang bisa riang walau pendapatan tahunannya jauh di bawah gajinya sebulan. Ada kebahagiaan di luar uang; sesuatu yang rupanya dicari pemuda tajir itu.
Dialog masalah berat, yang dalam sebuah lagu Iwan Fals disebut "karang yang kerap ganggu tidurmu", dalam novel ini berjalan apik dan tak melelahkan.
"Aku ingin sukses dan bahagia." Inilah kalimat yang menjadi ruh novel ini. (JMS).
48% ZAT BERBAHAYA DALAM JAJANAN ANAK ANDA
Direktur Surveilan dan Penyuluhan Kemanan Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Halim Nababan, mengatakan kemanan dan kualitas pangan yang pihaknya teliti pada tahun 2008 sampai 2010 menunjukkan sekitar 48 persen bahan-bahan berbahaya ada pada makanan jajanan anak Sekolah Dasar (SD).
"Komitmen pemerintah melalui program Gerakan Pangan Menuju Gerakan Sehat yang Wakil Presiden, Budiono canangkan (31/1) tahun lalu, kita tindak lanjuti dan sasaran kita saat ini adalah anak SD," kata Halim kepada pers, di Jakarta, Kamis.
Menurut Halim, anak SD merupakan sasaran yang tepat untuk melakukan program tersebut, karena edukasi mengenai jajanan yang sehat diberikan saat usia tersebut sangatcocok diterapkan kepada mereka.
Dikatakan Halim, ini merupakan langkah kecil, namun dapat memberikan efek yang besar nantinya bagi penerus bangsa Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, dokter spesial anak sekaligus Tim Ahli Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dr. Rachmat Sentika, mengatakan jajanan anak yang banyak mengandung zat aditif dapat berbahaya bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Rachmat menjelaskan, efek dari zat tersebut memang tidak akan terlihat pada jangka waktu yang dekat, tapi dalam jangka waktu yang lama akan muncul kerusakan pada ginjal dan gangguan tumbuh kembang anak.
"Beberapa waktu lalu bersama BPOM, kami melakukan sidak ke SD di kabupaten Bandung, dari sidak tersebut sejumlah makanan ditemukan 12,3 persen mengandung formalin, 10,2 persen mengandung metanil yelow, 10,9 persen mengandung rhodamin B dan 56,7 persen mengandung boraks.
Selain dapat merusak ginjal dan menggangu tumbuh kembang anak, Rachmat menuturkan, apabila zat aditif terus dikonsumsi anak, maka proses pembentukan sel darah dapat terganggu, dan dapat menimbulkan penyakit kanker dikemudian hari.
(ANT/Ella).
KEKERASAN PADA JURNALIS TIDAK PERNAH BERUJUNG PADA PENYELESAIAN HUKUM
Dalam rangka Hari Kebebasan Pers Internasional 3 Mei 2012, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) BandarLampung meminta agar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers ditegakkan, sehingga para penghalangnya harus dipidanakan.
Selama ini, banyak pihak yang tidak menggunakan UU Pers, terutama untuk pemidanaan para aktor penghalang kebebasan pers, kata Ketua AJI Bandarlampung, Wakos Reza Gautama, didampingi Sekretaris, Padli Ramdan, di Bandarlampung, Kamis.
Wakos mengemukakan, selama ini banyak kasus kekerasan yang terjadi terhadap jurnalis tidak pernah berujung pada penyelesaian hukum.
AJI Bandarlampung mencatat, selama Januari-Mei 2012, setidaknya ada tiga kekerasan jurnalis terjadi di Lampung.
Pertama adalah pengusiran dua wartawan, yaitu Tika (jurnalis Lampung Ekspres Plus) dan Esa Mutiqa Sari (harian Radar Lampung) yang sedang meliput persidangan oleh hakim di Pengadilan Negeri Tanjungkarang.
Kedua dialami oleh jurnalis Radar Lampung Segan Petrus Simanjuntak. Segan mengaku telah dicaci maki oleh Penjabat Bupati Mesuji Albar Hasan Tanjung.
Ketiga, kekerasan yang dialami jurnalis Harian Bongkar Lampung, Emir Fajar Saputra. Blackberry milik Emir dirampas oleh petugas Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandarlampung.
Emir ketika itu sedang mengambil gambar para petugas Satpol PP yang sedang ribut dengan seorang ibu melalui ponsel Blackberrynya.
Menurut Wakos, masih banyak juga penghalangan yang dilakukan oknum aparat negara terhadap jurnalis dalam meliput.
Padahal, lanjut dia, tindakan penghalangan jurnalis dalam melakukan kerja jurnalistik itu, bisa dipidanakan.
Ia menyatakan, hal itu diatur di dalam pasal 18 UU Pers.
Wakos menegaskan bahwa setiap tindakan yang menghalangi kebebasan pers, bisa dipidana penjara paling lama dua tahun atau denda paling banyak Rp500 juta.
"Kalau ada yang menghalangi tugas wartawan, bisa dilaporkan ke penegak hukum. Penegak hukum harus memprosesnya karena ini diatur dalam undang-undang," kata dia.
Selama ini, banyak kasus penghalangan kerja jurnalis tidak berakhir di meja hijau, melainkan hanya dengan mediasi.
Hal inilah, ujar dia pula, mengakibatkan tidak jera orang-orang untuk melakukan penghalangan kerja jurnalis.
AJI Indonesia telah menyatakan bahwa peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional 3 Mei 2012, harus menjadi momentum bagi komunitas pers untuk menuntut aparat hukum mengakhiri praktik impunitas pembunuh jurnalis.
Sejak 1996, sedikitnya terdapat delapan jurnalis telah dibunuh, namun kasusnya terbengkalai dan para pelakunya belum diadili.
AJI Indonesia menjadikan tuntutan "Lawan Impunitas, Adili Pembunuh Jurnalis" sebagai tema peringatan 3 Mei 2012.
Perilaku aparat penegak hukum yang terus mengambangkan delapan kasus pembunuhan jurnalis itu, dinilai merupakan bentuk praktik impunitas negara kepada para pembunuh jurnalis.
Aparat penegak hukum, menurut Ketua AJI Indonesia, Eko Maryadi, dinilai sengaja melindungi para pembunuh itu, sehingga mereka bebas dari hukuman pengadilan.
Delapan kasus pembunuhan jurnalis yang kasusnya tak terselesaikan adalah kasus pembunuhan Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin (jurnalis Harian Bernas di Yogyakarta, 16 Agustus 1996), Naimullah (jurnalis Harian Sinar Pagi di Kalimantan Barat, ditemukan tewas pada 25 Juli 1997), Agus Mulyawan (jurnalis Asia Press di Timor Timur, 25 September 1999).
Lalu, kasus Muhammad Jamaluddin (jurnalis kamera TVRI di Aceh, ditemukan tewas pada 17 Juni 2003), Ersa Siregar, jurnalis RCTI di Nanggroe Aceh Darussalam, 29 Desember 2003), Herliyanto (jurnalis lepas tabloid Delta Pos Sidoarjo di Jawa Timur, ditemukan tewas pada 29 April 2006), Adriansyah Matrais Wibisono (jurnalis TV lokal di Merauke, Papua, ditemukan pada 29 Juli 2010) dan Alfred Mirulewan (jurnalis tabloid Pelangi, Maluku, ditemukan tewas pada 18 Desember 2010).
AJI mendesak kasus-kasus tersebut dituntaskan, sehingga para pelakunya bisa dipidanakan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. (Ant/B014).
Langganan:
Postingan (Atom)





