Sebanyak 444 calon haji dari Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang
tergabung dalam kelompok terbang atau kloter 01 sudah mulai berangkat ke
asrama haji di Kota Bekasi, Kamis, untuk selanjutnya menuju Bandara
Soerkarno-Hatta.
"Jamaah calon haji sebanyak 444 orang itu berangkat ke embarkasi
Bekasi bersama enam Orang dari Tim Petugas Haji Daerah Dinas Kesehatan
Karawang," kata Kepala Kantor Kementerian Agama Karawang, Edy Yusuf di
Karawang, Kamis (20/9).
Dikatakannya, untuk kuota haji Karawang pada musim haji tahun
ini sebanyak 2.096 orang. Jumlah itu mengalami peningkatan jika
dibandingkan dengan kuota haji Karawang pada 2011 yang hanya mencapai
1.978 orang.
Pelepasan jamaah calon haji asal Karawang itu sendiri dilakukan
di halaman Pemkab Karawang. Sehingga di sisi jalan raya bagian depan dan
belakang kantor pemda, kondisinya cukup padat pada Kamis pagi.
Bupati Karawang, Ade Swara, yang melepas para calon haji yang
akan berangkat ke embarkasi Bekasi untuk selanjutnya diterbangkan ke
Tanah Suci Mekah itu mengucapkan selamat kepada jamaah calon haji.
Menurut dia, jamaah calon haji asal Karawang pada musim haji
tahun ini ini jumlahnya mencapai 2.096 Jamaah atau mengalami peningkatan
dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu dinilai cukup
majunya pendapatan atau tingkat kesejahteraan warga Karawang.
Ia berpesan agar jamaah calon haji asal Karawang selalu
mendoakan Karawang dan mendoakan para pemimpinnya, sehingga Karawang
tetap aman dan damai. Para calon haji juga diimbau untuk benar-benar
fokus dalam menjalankan ibadah tersebut. (*).
Jumat, 21 September 2012
ENRIZAL DARI BEKASI AKHIRNYA DIVONIS HUKUMAN MATI
Enrizal (45), sopir truk asal Bekasi, Jawa Barat, Rabu (19/9/2012),
divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri (PN) Kalianda, Lampung,
akibat perbuatannya mengangkut ganja seberat 3,5 ton pada Februari 2012.
Dalam putusan itu, majelis hakim yang terdiri dari Aryo Widiatmoko, Afit Rufiadi, dan Anak Agung Budita juga memvonis hukuman penjara seumur hidup kepada Juni Ardiwan, warga Bogor (Jawa Barat) yang juga rekan seprofesi Enrizal.
Keduanya, terbukti bersalah ikut membawa dan mengirim ganja seberat 3,5 ton asal Lhokseumawe (Aceh). Pelaku ditangkap di Pelabuhan Bakauheni (Lampung) pada 20 Februari 2012. "Vonis mati terhadap Enrizal dijatuhkan karena terdakwa adalah bagian dari sindikat peredaran narkoba tingkat nasional. Bukan sekadar sopir truk. Dalam persidangan, ia mengaku sudah melakukan hal yang sama lima kali, namun baru tertangkap sekali. Sesuai Pasal 114 ayat (2) junto 132 ayat (1) Undang-Undang 35 Tahun 2009 tentang Narkoba, ancaman hukum maksimal perbuatan ini adalah pidana mati," papar Kepala Bagian Humas PN Kalianda Afit Rufiadi, Kamis (20/9/2012) di Bandar Lampung.
Sementara, Juni tidak ikut dijatuhi hukuman mati karena ia menyatakan baru pertama kali melakukan perbuatan itu. "Namun, hal yang memberatkan, dia mengetahui adanya ajakan (mengangkut narkoba), namun tidak menolaknya," kata Afit.
Kedua sopir truk ini bergantian mengendarai truk berisi ganja dari Lhokseumawe hingga ke Bakauheni. Keduanya diupah Rp 30 juta. Para sopir ekspedisi yang biasa "mangkal" di Pasar Kramat Jati, Jakarta, ini bahkan juga dibelikan tiket pesawat Jakarta-Aceh oleh Jufri, pemesan ganja. Jufri kini masih buron.
Menurut Afit, vonis hukuman mati ini untuk memberi efek jera bagi pengedar sekaligus menekan peredaran narkoba. "Kejahatan narkoba adalah extra-ordinary crime, karena itu penanganannya juga harus dengan cara-cara yang luar biasa. Menghilangkan satu nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa lainnya adalah pertimbangannya," tutur Afit, yang juga bertindak sebagai anggota majelis hakim yang menangani perkara itu.(*).
Dalam putusan itu, majelis hakim yang terdiri dari Aryo Widiatmoko, Afit Rufiadi, dan Anak Agung Budita juga memvonis hukuman penjara seumur hidup kepada Juni Ardiwan, warga Bogor (Jawa Barat) yang juga rekan seprofesi Enrizal.
Keduanya, terbukti bersalah ikut membawa dan mengirim ganja seberat 3,5 ton asal Lhokseumawe (Aceh). Pelaku ditangkap di Pelabuhan Bakauheni (Lampung) pada 20 Februari 2012. "Vonis mati terhadap Enrizal dijatuhkan karena terdakwa adalah bagian dari sindikat peredaran narkoba tingkat nasional. Bukan sekadar sopir truk. Dalam persidangan, ia mengaku sudah melakukan hal yang sama lima kali, namun baru tertangkap sekali. Sesuai Pasal 114 ayat (2) junto 132 ayat (1) Undang-Undang 35 Tahun 2009 tentang Narkoba, ancaman hukum maksimal perbuatan ini adalah pidana mati," papar Kepala Bagian Humas PN Kalianda Afit Rufiadi, Kamis (20/9/2012) di Bandar Lampung.
Sementara, Juni tidak ikut dijatuhi hukuman mati karena ia menyatakan baru pertama kali melakukan perbuatan itu. "Namun, hal yang memberatkan, dia mengetahui adanya ajakan (mengangkut narkoba), namun tidak menolaknya," kata Afit.
Kedua sopir truk ini bergantian mengendarai truk berisi ganja dari Lhokseumawe hingga ke Bakauheni. Keduanya diupah Rp 30 juta. Para sopir ekspedisi yang biasa "mangkal" di Pasar Kramat Jati, Jakarta, ini bahkan juga dibelikan tiket pesawat Jakarta-Aceh oleh Jufri, pemesan ganja. Jufri kini masih buron.
Menurut Afit, vonis hukuman mati ini untuk memberi efek jera bagi pengedar sekaligus menekan peredaran narkoba. "Kejahatan narkoba adalah extra-ordinary crime, karena itu penanganannya juga harus dengan cara-cara yang luar biasa. Menghilangkan satu nyawa untuk menyelamatkan banyak nyawa lainnya adalah pertimbangannya," tutur Afit, yang juga bertindak sebagai anggota majelis hakim yang menangani perkara itu.(*).
40 RIBU CHEVROLET DIPRODUKSI KUARTAL I 2013
PT General Motor Indonesia akan memproduksi produk mobil Chevrolet
Spin sebanyak 40.000 unit per tahun yang mulai diproduksi pada kuartal I
2013.
Marcos Purty, Presiden Direktur PT General Motor Indonesia, menuturkan produk mobil tersebut akan diproduksi pabrik perusahaan tersebut yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. "Kami mengaktifkan kembali pabrik yang berada di Bekasi itu," ujarnya dalam ajang Indonesia International Motor Show 2012, Kamis (20/9/2012).
Perusahaan tersebut memamerkan Chevrolet Spin dengan menggambarkan kelahiran kembali semangat strategi General Motor di Indonesia untuk dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan segmen multi purpose vehicle (MPV) di Indonesia.
Produk tersebut dirancang dan dikembangkan oleh pusat permesinan dan desain General Motor, di Sao Paolo, Brasil.
Sebagai pasar domestik Indonesia, Chevrolet Spin nantinya yang diproduksi di Bekasi itu akan dijual di Asia Tenggara, termasuk Thailand dan Filipina. "Pasar lain juga akan kami incar, termasuk Timur Tengah dan juga negara-negara lain di seluruh dunia dengan permintaan MPV," ujarnya.(Coen).
Marcos Purty, Presiden Direktur PT General Motor Indonesia, menuturkan produk mobil tersebut akan diproduksi pabrik perusahaan tersebut yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat. "Kami mengaktifkan kembali pabrik yang berada di Bekasi itu," ujarnya dalam ajang Indonesia International Motor Show 2012, Kamis (20/9/2012).
Perusahaan tersebut memamerkan Chevrolet Spin dengan menggambarkan kelahiran kembali semangat strategi General Motor di Indonesia untuk dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan segmen multi purpose vehicle (MPV) di Indonesia.
Produk tersebut dirancang dan dikembangkan oleh pusat permesinan dan desain General Motor, di Sao Paolo, Brasil.
Sebagai pasar domestik Indonesia, Chevrolet Spin nantinya yang diproduksi di Bekasi itu akan dijual di Asia Tenggara, termasuk Thailand dan Filipina. "Pasar lain juga akan kami incar, termasuk Timur Tengah dan juga negara-negara lain di seluruh dunia dengan permintaan MPV," ujarnya.(Coen).
Kamis, 20 September 2012
JOKOWI-BASUKI UNGGUL DI HITUNG CEPAT
Kandidat gubernur
dan wakil gubernur DKI Jakarta dengan nomor urut tiga, Joko
Widodo-Basuki Tjahaya Purnama alias Jokowi-Ahok, berdasarkan hasil
hitung cepat meraup suara lebih banyak daripada rivalnya, Fauzi
Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara).
Berdasarkan hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan TV One hingga pukul 15.31 WIB Jokowi-Ahok meraih 53,66 persen suara sementara Foke-Nara 46,34 persen.
Sementara itu hitung cepat Litbang Kompas, yang menggunakan 200 sampel tempat pemungutan suara (TPS), menyebutkan Jokowi unggul dengan perolehan 52,97 persen. Sedangkan Foke-Nara 47,03 persen.
Lembaga survei Indo Barometer yang hasil hitung cepatnya ditayangkan di Metro TV juga menyebutkan Jokowi menang dengan raihan suara 54,11 persen dan 45,89 persen untuk Foke.
Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) unggul dalam hitung cepat yang diadakan sejumlah lembaga survei, seperti Indo Barometer dan Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Indo Barometer dalam hitungan cepatnya mencatat, pasangan Jokowi-Ahok meraih 54,24 persen suara, sedangkan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) hanya mendapat 45,76 persen suara.
LSI mencatat, Jokowi-Ahok meraih 53 persen suara, adapun Foke-Nara hanya mendapat 46,25 persen suara.
Susul menyusul perolehan suara terjadi sejak awal hitung cepat yang disiarkan langsung beberapa stasiun televisi swasta itu.
Joko Widodo mengemukakan bahwa sudah mendapatkan ucapan selamat dari Fauzi Bowo. (*).
Berdasarkan hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan TV One hingga pukul 15.31 WIB Jokowi-Ahok meraih 53,66 persen suara sementara Foke-Nara 46,34 persen.
Sementara itu hitung cepat Litbang Kompas, yang menggunakan 200 sampel tempat pemungutan suara (TPS), menyebutkan Jokowi unggul dengan perolehan 52,97 persen. Sedangkan Foke-Nara 47,03 persen.
Lembaga survei Indo Barometer yang hasil hitung cepatnya ditayangkan di Metro TV juga menyebutkan Jokowi menang dengan raihan suara 54,11 persen dan 45,89 persen untuk Foke.
Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) unggul dalam hitung cepat yang diadakan sejumlah lembaga survei, seperti Indo Barometer dan Lembaga Survei Indonesia (LSI).
Indo Barometer dalam hitungan cepatnya mencatat, pasangan Jokowi-Ahok meraih 54,24 persen suara, sedangkan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara) hanya mendapat 45,76 persen suara.
LSI mencatat, Jokowi-Ahok meraih 53 persen suara, adapun Foke-Nara hanya mendapat 46,25 persen suara.
Susul menyusul perolehan suara terjadi sejak awal hitung cepat yang disiarkan langsung beberapa stasiun televisi swasta itu.
Joko Widodo mengemukakan bahwa sudah mendapatkan ucapan selamat dari Fauzi Bowo. (*).
RSIA SITI ZACHROH TIDAK LEPAS TANGAN
Perkataan pemilik RSIA Siti Zachroh kepada Syifa, 20, dan Jaja, 31,
untuk mengikhlaskan bayi mereka yang hilang di rumah sakit tersebut
dipersepsikan pasangan itu sebagai bentuk keinginan rumah sakit untuk
lepas tangan atas kasus tersebut.
Padahal, menurut pihak rumah sakit, mereka tidak ada niat sama sekali untuk tidak bertanggung jawab. "Pembicaraan waktu itu dimaksudkan untuk menenangkan dan membesarkan hati Ibu Syifa dan Pak Jaja. Hanya salah persepsi," ujar Direktur Utama RSIA Siti Zachroh Dr Nurul saat ditemui di kantornya, Kamis (20/9).
Menurutnya, pihak RSIA sangat mengusahakan kasus ini bisa terkuak. Justru pihaknya yang berinisiatif terlebih dahulu melaporkan kejadian itu ke Polsek Tambun sesaat setelah kejadian, Sabtu (15/9) lalu.
Tim penyidik dari Polsek Tambun hari itu juga langsung melakukan pemeriksaan. "Selesai itu baru dirujuk ke Polresta Bekasi dan aturannya memang harus ibunya yang melaporkan," jelasnya.
Saat melaporkan kejadian, kondisi tubuh Syifa masih lemah pascaoperasi cesar dan harus menggunakan kursi roda. Ia diantarkan bidan dan perawat rumah sakit itu didampingi keluarganya. "Kami juga masih mendampingi beliau setelah melaporkan ke polisi," kata Nurul.
Setelah melaporkan kejadian ke Polresta Bekasi, RSIA Siti Zachroh melakukan pemeriksaan internal. Satu per satu yang sedang bertugas hari itu ia mintai keterangan. "Memang tidak kami kumpulkan semua. Kami tanyai satu per satu saja. Mengenai hasilnya, kami tidak mau berasumsi. Kami serahkan saja ke Polresta," ujarnya.
Nurul mengaku sudah menerima surat undangan Komisi Nasional Perlindungan Anak untuk bertandang ke kantor mereka dan memberikan informasi. Namun, pihak rumah sakit belum bisa memastikan akan memenuhi undangan itu atau tidak.
Jika Komnas PA yang datang, Nurul berkata pihak.ya akan sangat terbuka untuk memberi informasi yang dibutuhkan.
Sebelumnya, Komnas PA mengatakan RS itu melakukan kelalaian prosedur seperti tidak adanya CCTV, perawat yang tidak sebanding dengan jumlah bayi, juga ruangan bayi yang tidak steril dari lalu-lalang orang lain.
Nurul menampik pihaknya melakukan kelalaian. "Memang tidak semua rumah sakit pasang CCTV kok. Meskipun kini kami sudah pasang," ucapnya.
Nurul juga membantah jumlah perawat yang tidak sebanding dengan pasien seperti keterangan Syifa yang menyebutkan hanya ada 1 perawat untuk 8 bayi. "Saat kejadian ada lima bayi, termasuk bayi ibu Syifa. Perawat saat itu juga harusnya ada lima. Hanya yang satu sakit jadi hanya ada empat. Lagi pula, SOP tidak menyebutkan juga satu pasien harus satu perawat kok," kilahnya.
Ruangan bayi pun menurut Nurul sudah steril. Mengenai tuduhan Komnas PA yang mengatakan ruang bayi itu tidak steril saat kejadian, Nurul berkilah bahwa kehilangan itu terjadi di lorong, bukan di ruang bayi. Jam besuk pun jelas. "Jam besuk kami pukul 11.00-13.00 dan pukul 17.00-19.00 WIB," paparnya. (*).
Padahal, menurut pihak rumah sakit, mereka tidak ada niat sama sekali untuk tidak bertanggung jawab. "Pembicaraan waktu itu dimaksudkan untuk menenangkan dan membesarkan hati Ibu Syifa dan Pak Jaja. Hanya salah persepsi," ujar Direktur Utama RSIA Siti Zachroh Dr Nurul saat ditemui di kantornya, Kamis (20/9).
Menurutnya, pihak RSIA sangat mengusahakan kasus ini bisa terkuak. Justru pihaknya yang berinisiatif terlebih dahulu melaporkan kejadian itu ke Polsek Tambun sesaat setelah kejadian, Sabtu (15/9) lalu.
Tim penyidik dari Polsek Tambun hari itu juga langsung melakukan pemeriksaan. "Selesai itu baru dirujuk ke Polresta Bekasi dan aturannya memang harus ibunya yang melaporkan," jelasnya.
Saat melaporkan kejadian, kondisi tubuh Syifa masih lemah pascaoperasi cesar dan harus menggunakan kursi roda. Ia diantarkan bidan dan perawat rumah sakit itu didampingi keluarganya. "Kami juga masih mendampingi beliau setelah melaporkan ke polisi," kata Nurul.
Setelah melaporkan kejadian ke Polresta Bekasi, RSIA Siti Zachroh melakukan pemeriksaan internal. Satu per satu yang sedang bertugas hari itu ia mintai keterangan. "Memang tidak kami kumpulkan semua. Kami tanyai satu per satu saja. Mengenai hasilnya, kami tidak mau berasumsi. Kami serahkan saja ke Polresta," ujarnya.
Nurul mengaku sudah menerima surat undangan Komisi Nasional Perlindungan Anak untuk bertandang ke kantor mereka dan memberikan informasi. Namun, pihak rumah sakit belum bisa memastikan akan memenuhi undangan itu atau tidak.
Jika Komnas PA yang datang, Nurul berkata pihak.ya akan sangat terbuka untuk memberi informasi yang dibutuhkan.
Sebelumnya, Komnas PA mengatakan RS itu melakukan kelalaian prosedur seperti tidak adanya CCTV, perawat yang tidak sebanding dengan jumlah bayi, juga ruangan bayi yang tidak steril dari lalu-lalang orang lain.
Nurul menampik pihaknya melakukan kelalaian. "Memang tidak semua rumah sakit pasang CCTV kok. Meskipun kini kami sudah pasang," ucapnya.
Nurul juga membantah jumlah perawat yang tidak sebanding dengan pasien seperti keterangan Syifa yang menyebutkan hanya ada 1 perawat untuk 8 bayi. "Saat kejadian ada lima bayi, termasuk bayi ibu Syifa. Perawat saat itu juga harusnya ada lima. Hanya yang satu sakit jadi hanya ada empat. Lagi pula, SOP tidak menyebutkan juga satu pasien harus satu perawat kok," kilahnya.
Ruangan bayi pun menurut Nurul sudah steril. Mengenai tuduhan Komnas PA yang mengatakan ruang bayi itu tidak steril saat kejadian, Nurul berkilah bahwa kehilangan itu terjadi di lorong, bukan di ruang bayi. Jam besuk pun jelas. "Jam besuk kami pukul 11.00-13.00 dan pukul 17.00-19.00 WIB," paparnya. (*).
SKETSA PENCULIK CELLO ADITYA SEGERA DISEBAR
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Kabupaten Bekasi Komisaris Dedy Murti Haryadi, mengatakan
Sketsa seorang perempuan berkerudung tersangka penculik bayi laki-laki yang dinamai Cello Aditya telah selesai dibuat dan segera disebar. "Sketsa sudah selesai dibuat dan segera disebarluaskan untuk memburu tersangka," katanya.
Sketsa dihasilkan atas keterangan dua saksi yang salah satunya merupakan saksi kunci, yakni Nyonya Ucin, dan tenaga ahli Pusat Indonesian Automatic Fingerprints Identification System (Inafis) Badan Reserse Kriminal.
Cello Aditya sendiri merupakan Anak pertama pasangan Jaja Nurdiansyah (31) dan Syifa Maisyatul Khoirot (21) itu diculik dari Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Siti Zachroh, Tambun, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Sabtu (15/9/2012) sekitar pukul 13.00 WIB.
Kepada Nyonya Ucin, Syifa menitipkan bayi Cello karena ingin buang air di toilet. Ketika Syifa di kamar mandi dan bayi masih dalam gendongan Nyonya Ucin, datang seorang perempuan berkerudung dan berpakaian putih yang mengaku perawat.
Perempuan itu mengambil bayi Cello dari Nyonya Ucin dengan alasan bayi akan diperiksa oleh dokter sebelum diizinkan pulang. Ketika Syifa selesai dari toilet dan menanyakan di mana bayinya, Nyonya Ucin mengatakan bahwa bayinya dibawa perawat. Setelah dicek ke ruang perawatan bayi, ananda Cello tidak diketemukan lagi.
Kasus ini pun kemudian dilaporkan ke Kepolisian Sektor Tambun di samping RSIA dan Polres Kabupaten Bekasi. Polisi telah meminta keterangan dari orangtua, saksi-saksi, pengelola, dan pegawai RSIA. Peristiwa itu juga telah direkonstruksi dalam 16 adegan yang melibatkan 9 saksi.(Coen).
Rabu, 19 September 2012
BEKASI AKAN MENJADI SUMBER AIR BAKU JAKARTA
Kepala Badan Pendukung Penyehatan Sistem Penyediaan Air Minum (BPPSPAM)
Rachmat Karnadi mengatakan, usulan rencana pembangunan sumber air baku
di Bekasi sebesar 26 kubik per detik, yang diperkirakan akan mulai
operasi pada tahun 2013 mendatang. Usulan itu sudah disampaikan ke kementerian
PU dan Bappenas pekan lalu, dan pada prinsipnya sudah diterima.
Pemerintah mengubah rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) untuk kawasan Jakarta, Bekasi dan Karawang, yang semula bersumber dari air baku di Jatiluhur Jawa Barat, menjadi sumber air di Bekasi Jawa Barat.
Rahmat Karnadi mengatakan dengan adanya perubahan itu dapat memangkas biaya investasi yang dibutuhkan untuk pembangunannya. Pasalnya, dengan sumber air dari Bekasi, total investasi yang dibutuhkan sekitar Rp. 1,8 triliun. Sedangkan jika sumber air dari Jatiluhur investasinya diperkirakan mencapai Rp. 4 triliun. "Investasi jauh lebih murah karena cenderung konstruksi tidak terlalu berat karena jarak antara Bekasi dan Jakarta dan Bekasi Karawang tidak terlalu jauh. Ini menjadi salah satu pertimbangan utama kami," ujarnya, Rabu (19/9/2012).
Menurut Rachmat, selain rendahnya biaya konstruksi, maka beban biaya tarif jual airnya juga bisa ditekan. Jika semula diperkirakan mencapai Rp3.000-6.000 liter per detik untuk wilayah Jakarta, maka dengan sumber air di Bekasi harganya mencapai Rp2.100 per detik. "Saat ini, kami masih menunggu persetujuan resmi dari Kementerian PU, Bappenas, dan Kementerian Keuangan. Untuk memutuskan usulan penggunaam sumber air ini," tambahnya.(Coen).
Pemerintah mengubah rencana pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) untuk kawasan Jakarta, Bekasi dan Karawang, yang semula bersumber dari air baku di Jatiluhur Jawa Barat, menjadi sumber air di Bekasi Jawa Barat.
Rahmat Karnadi mengatakan dengan adanya perubahan itu dapat memangkas biaya investasi yang dibutuhkan untuk pembangunannya. Pasalnya, dengan sumber air dari Bekasi, total investasi yang dibutuhkan sekitar Rp. 1,8 triliun. Sedangkan jika sumber air dari Jatiluhur investasinya diperkirakan mencapai Rp. 4 triliun. "Investasi jauh lebih murah karena cenderung konstruksi tidak terlalu berat karena jarak antara Bekasi dan Jakarta dan Bekasi Karawang tidak terlalu jauh. Ini menjadi salah satu pertimbangan utama kami," ujarnya, Rabu (19/9/2012).
Menurut Rachmat, selain rendahnya biaya konstruksi, maka beban biaya tarif jual airnya juga bisa ditekan. Jika semula diperkirakan mencapai Rp3.000-6.000 liter per detik untuk wilayah Jakarta, maka dengan sumber air di Bekasi harganya mencapai Rp2.100 per detik. "Saat ini, kami masih menunggu persetujuan resmi dari Kementerian PU, Bappenas, dan Kementerian Keuangan. Untuk memutuskan usulan penggunaam sumber air ini," tambahnya.(Coen).
Langganan:
Postingan (Atom)






