Maria Sidabutar, Public Relation (PR) General Motors Indonesia, menyatakan Industri otomotif raksasa dunia asal Amerika Serikat (AS), General Motors, menyiapkan rencana besarnya di bumi Khatulistiwa, Indonesia.
"Pada
awal 2013, kami bersiap untuk kembali mengoperasikan pabrik di
Indonesia. Lokasinya di Bekasi," ujar Public Relations General Motors
Indonesia tersebut, di D'Palm, Jalan Lombok Bandung.
Maria
mengutarakan, jika pengoperasian itu berlangsung mulus sesuai rencana,
pihaknya memiliki target lain. Targetnya yaitu memproduksi mobil pada
tahun yang sama. Maria mengutarakan, pabrik tersebut berkapasitas
produksi cukup banyak. Volumenya dapat mencapai sekitar 40 ribu unit per
tahun.
Maria berpendapat, banyak hal positif yang diraih
General Motors apabila mengoperasikan pabrik di Indonesia. Di antaranya
pihaknya dapat menekan bea produksi.(Coen).
Senin, 10 September 2012
FPP KOTA BEKASI DESAK PEMKOT SEGERA LAKUKAN PEMBANGUNAN FISIK APBD 2012
Belasan anggota Forum Pemuda Perumahan (FPP) Kota Bekasi melakukan unjuk rasa di depan kantor sekretariat daerah (Setda) Kota Bekasi Senin (10/9/2012) siang. Dengan membawa 4 bendera FPP Kota Bekasi mereka mendesak pemkot Bekasi untuk segera melaksanakan pembangunan sesuai penetapan APBD Kota Bekasi 2012.
Selain membagikan selembaran, anggota FPP juga berorasi tepat di pintu utama kantor setda Kota Bekasi terkait lambatnya kegiatan pembangunan yang dilakukan pada tahun anggaran 2012. "Kami minta pemkot Bekasi segera melaksanakan kegiatan pembangunan sesuai APBD yang ditetap," kata Budi Wibisono selaku koordinator aksi (10/9).
Berulang kali para pengunjuk rasa meneriakkan kata-kata kembalikan uang rakyat ke arah kantor sambil mengacung-acungkan bendera yang mereka pegang. Beberapa contoh yang mereka jadikan acuan untuk menggugat pemkot Bekasi adalah pelaksanaan kegiatan pembangunan stadion dan gedung Pusat Pemerintahan Kota (PUSPEMKOT) Bekasi 10 lantai.
Dalam orasinya para pengunjuk rasa menanyakan kegiatan pembangunan stadion sebesar Rp. 250 milyar dan lanjutan pembangunan Puspemkot sebesar Rp. 112,5 milyar. "Semua itu proyek mimpi yang ternyata hanya bancakan saja dalam penyusunan anggaran daerah dengan menguras uang rakyat kota Bekasi," kata Budi. (Don).
Selain membagikan selembaran, anggota FPP juga berorasi tepat di pintu utama kantor setda Kota Bekasi terkait lambatnya kegiatan pembangunan yang dilakukan pada tahun anggaran 2012. "Kami minta pemkot Bekasi segera melaksanakan kegiatan pembangunan sesuai APBD yang ditetap," kata Budi Wibisono selaku koordinator aksi (10/9).
Berulang kali para pengunjuk rasa meneriakkan kata-kata kembalikan uang rakyat ke arah kantor sambil mengacung-acungkan bendera yang mereka pegang. Beberapa contoh yang mereka jadikan acuan untuk menggugat pemkot Bekasi adalah pelaksanaan kegiatan pembangunan stadion dan gedung Pusat Pemerintahan Kota (PUSPEMKOT) Bekasi 10 lantai.
Dalam orasinya para pengunjuk rasa menanyakan kegiatan pembangunan stadion sebesar Rp. 250 milyar dan lanjutan pembangunan Puspemkot sebesar Rp. 112,5 milyar. "Semua itu proyek mimpi yang ternyata hanya bancakan saja dalam penyusunan anggaran daerah dengan menguras uang rakyat kota Bekasi," kata Budi. (Don).
Minggu, 09 September 2012
KAUM PINGGIRAN, REPRESENTASI KOTA MODERN
Persoalan kota, sekecil apapun tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan kota. Sepintas, laju perkembangan kota terkait dengan persoalan modernisasi dan kekuasaan kapitalisme dalam
menciptakan pasar-pasar dan mengendalikan tenaga kerja (Harvey, 1985). Adanya mal-mal yang dibangun menyingkirkan pedagang-pedagang kecil.
Memang membaca modernisasi kota tidak dapat dilepaskan dari aspek ekonomi dan konflik sosial antar kelas. Anthony Reid, mempresentasikan bahwa pertumbuhan kota modern awal terjadi karena perdagangan. Suburnya hubungan perdagangan maritim Asia abad 13 dan 14 membuat kota-kota pantai seperti Tuban, Gresik, dan Malaka memiliki hubungan langsung ke jalur pelayaran internasional (Mahatmanto, 2003: 19).
Bahkan Marx pun mengintepretasikan kota sebagai kemajuan besar dalam produktivitas yang dibawa
kapitalisme, dan di sisi lain memunculkan kemiskinan dan ketidakpedulian (Barker, 2005:390).
Akan tetapi, perubahan kota dapat dibunyikan dengan cara lain lewat pembacaan kota sebagai teks. Di sini adalah soal representasi. Kota terdiri dari ruang-ruang yang membedakan satu sama lain. Ruang glamor, ruang kumuh, ruang formal, dan ruang kelas menengah merupakan klasifikasi kultural atau pembagian spasial yang nyata di masyarakat (Barker, 2005:417). Ruang-ruang tersebut saling diperebutkan. Di sini terjadi tindakan menutup-nutupi atau menghilangkan ruang yang disebut kumuh, negatif dan
informal.
Hal ini disesuaikan dengan hubungan kekuasaan yang pada akhirnya sampai pada perubahan aturan-aturan
sosial sebagai acuan untuk menjalankan aktivitas kehidupan. Sebagai contoh, halaman Monas di Jakarta dulunya merupakan tempat berkumpulnya masyarakat. Interaksi sosial terjadi di sana. Orang bisa nyaman
saling curhat di sana sambil menikmati makanan yang dibelinya dari pedagang-pedagang kecil yang juga ada di situ.
Tapi sekarang fungsi halaman tersebut sudah berubah. Aturan baru muncul. Tidak ada pedagang di sana. Tempat itu adalah tempat wisata resmi. Pagar-pagar besi dibuat disekelilingnya membuat situasi menjadi formal.
Munculnya kelompok pinggiran seperti pengamen, gelandangan, pengemis, waria, pedagang kaki lima, dan masyarakat kampung pinggir kali merupakan efek dari perubahan kota melalui representasi itu. Penggusuran pemukiman yang sering terjadi di Jakarta dan kota lainnya dilakukan agar kota-kota itu menjadi indah
dan areanya bisa dibangun pabrik, perusahaan ataupun supermarket. Intinya, mereka dipinggirkan agar konsep kota modern dapat ditata dan dijalankan. (Ilya F. Maharika).
menciptakan pasar-pasar dan mengendalikan tenaga kerja (Harvey, 1985). Adanya mal-mal yang dibangun menyingkirkan pedagang-pedagang kecil.
Memang membaca modernisasi kota tidak dapat dilepaskan dari aspek ekonomi dan konflik sosial antar kelas. Anthony Reid, mempresentasikan bahwa pertumbuhan kota modern awal terjadi karena perdagangan. Suburnya hubungan perdagangan maritim Asia abad 13 dan 14 membuat kota-kota pantai seperti Tuban, Gresik, dan Malaka memiliki hubungan langsung ke jalur pelayaran internasional (Mahatmanto, 2003: 19).
Bahkan Marx pun mengintepretasikan kota sebagai kemajuan besar dalam produktivitas yang dibawa
kapitalisme, dan di sisi lain memunculkan kemiskinan dan ketidakpedulian (Barker, 2005:390).
Akan tetapi, perubahan kota dapat dibunyikan dengan cara lain lewat pembacaan kota sebagai teks. Di sini adalah soal representasi. Kota terdiri dari ruang-ruang yang membedakan satu sama lain. Ruang glamor, ruang kumuh, ruang formal, dan ruang kelas menengah merupakan klasifikasi kultural atau pembagian spasial yang nyata di masyarakat (Barker, 2005:417). Ruang-ruang tersebut saling diperebutkan. Di sini terjadi tindakan menutup-nutupi atau menghilangkan ruang yang disebut kumuh, negatif dan
informal.
Hal ini disesuaikan dengan hubungan kekuasaan yang pada akhirnya sampai pada perubahan aturan-aturan
sosial sebagai acuan untuk menjalankan aktivitas kehidupan. Sebagai contoh, halaman Monas di Jakarta dulunya merupakan tempat berkumpulnya masyarakat. Interaksi sosial terjadi di sana. Orang bisa nyaman
saling curhat di sana sambil menikmati makanan yang dibelinya dari pedagang-pedagang kecil yang juga ada di situ.
Tapi sekarang fungsi halaman tersebut sudah berubah. Aturan baru muncul. Tidak ada pedagang di sana. Tempat itu adalah tempat wisata resmi. Pagar-pagar besi dibuat disekelilingnya membuat situasi menjadi formal.
Munculnya kelompok pinggiran seperti pengamen, gelandangan, pengemis, waria, pedagang kaki lima, dan masyarakat kampung pinggir kali merupakan efek dari perubahan kota melalui representasi itu. Penggusuran pemukiman yang sering terjadi di Jakarta dan kota lainnya dilakukan agar kota-kota itu menjadi indah
dan areanya bisa dibangun pabrik, perusahaan ataupun supermarket. Intinya, mereka dipinggirkan agar konsep kota modern dapat ditata dan dijalankan. (Ilya F. Maharika).
MUHARLI BARDA ANGGAP TEKANAN PADA MUI JATIM SEBAGAI BENTUK PROVOKASI UNTUK PEMBATALAN FATWA
Tekanan
terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) membuat Front Pembela Islam
(FPI) mulai unjuk gigi. Murhali Barda, Ketua FPI DPW Bekasi Raya ikut
angat suara guna memberikan dukungannya kepada Majelis Ulama Indonesia
(MUI) Jawa Timur (Jatim) yang dinilai mendapat tekanan dari berbagai
kalangan menyangkut fatwa sesat pada Syiah.
Menurutnya, fatwa MUI Jatim tidak boleh dan tidak bisa dianulir. Ia menyatakan Fatwa tersebut memiliki keterkaitan dengan fatwa sesat ajaran Ahmadiyah dan Pluralisme Agama yang pernah difatwakan sesat MUI. “Jika fatwa MUI Jatim dibatalkan, maka ini akan menjadi celah kelompok liberal untuk memprovokasi pembatalan fatwa sesat Ahmadiyah, Pluralisme Agama dan aliran sesat lainnya,” jelas Murhali Barda, Sabtu (08/09/2012).
Terlebih menurutnya, integritas MUI selama ini dikenal sanat independen. MUI tidak bisa ditunggangi dan diintervensi atas tekanan dan kepentingan politis. Menurutnya, aturan tertinggi dalam MUI adalah Al Qur’an dan As Sunnah tidak ada selain itu.
Murhali mengatakan, kesalahan terbesar penyelesaian masalah Syiah Sampang adalah karena media massa melibatkan politisi dalam urusan Syiah, bukan ulama dan pakar syariat. “Kita tidak bisa seenaknya menyuruh MUI menarik sebuah fatwa, semua itu sudah melewati proses investigasi, akademisi dan ilmu syariat yang panjang,” tambah lelaki lulusan Pesantren Gontor tahun 1995 ini.
Sebelum ini, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengaku keberatan atas fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah. Bahkan politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha dan pakar Sejarah Taufik Abdullah ikut menuduh Fatwa MUI Jawa Timur sebagai biang masalah Sampang. “Boleh jadi secara pribadi kita menganggap Syiah itu sesat, tapi apakah pernah dipikirkan oleh MUI konsekuensi terhadap rakyat kecil setiap fatwanya?,” jelas Abdillah Toha dalam diskusi di PP Muhammadiyah mengenai “Keanekaragaman dan Intoleransi di Indonesia", Kamis (06/09/2012).
Sebelumnya, para politisi juga ikut-ikutan berkomentar masalah fatwa. Termasuk Anggota Komisi Hukum dari Golkar, Nudirman Munir dan Anggota Komisi Hukum dari Partai Persatuan Pembangunan, Ahmad Yani, juga ikut meminta MUI mencabut fatwa soal kesesatan Syiah dan juga menyahkan MUI Jawa Timur.
Karena itu, Murhali Barda meminta umat Islam memberikan dukungan moralnya kepada MUI Jatim. Biar bagaimanapun, katanya, mengeluarkan sebuah fatwa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua itu melalui proses yang alot dan sudah dipertimbangkan kemaslahatannya. Kredibilitas ulama dan MUI akan hancur jika sebuah fatwa dibatalkan karena tekanan politis, apalagi hanya oleh penggiringan media massa.
Tanpa ragu Murhali mengatakan keberadaan fatwa ajaran Syiah adalah sesat oleh MUI Jatim adalah benar dan harus dihormati. (*/Coen).
Menurutnya, fatwa MUI Jatim tidak boleh dan tidak bisa dianulir. Ia menyatakan Fatwa tersebut memiliki keterkaitan dengan fatwa sesat ajaran Ahmadiyah dan Pluralisme Agama yang pernah difatwakan sesat MUI. “Jika fatwa MUI Jatim dibatalkan, maka ini akan menjadi celah kelompok liberal untuk memprovokasi pembatalan fatwa sesat Ahmadiyah, Pluralisme Agama dan aliran sesat lainnya,” jelas Murhali Barda, Sabtu (08/09/2012).
Terlebih menurutnya, integritas MUI selama ini dikenal sanat independen. MUI tidak bisa ditunggangi dan diintervensi atas tekanan dan kepentingan politis. Menurutnya, aturan tertinggi dalam MUI adalah Al Qur’an dan As Sunnah tidak ada selain itu.
Murhali mengatakan, kesalahan terbesar penyelesaian masalah Syiah Sampang adalah karena media massa melibatkan politisi dalam urusan Syiah, bukan ulama dan pakar syariat. “Kita tidak bisa seenaknya menyuruh MUI menarik sebuah fatwa, semua itu sudah melewati proses investigasi, akademisi dan ilmu syariat yang panjang,” tambah lelaki lulusan Pesantren Gontor tahun 1995 ini.
Sebelum ini, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsudin mengaku keberatan atas fatwa MUI Jawa Timur tentang Syiah. Bahkan politikus Partai Amanat Nasional (PAN) Abdillah Toha dan pakar Sejarah Taufik Abdullah ikut menuduh Fatwa MUI Jawa Timur sebagai biang masalah Sampang. “Boleh jadi secara pribadi kita menganggap Syiah itu sesat, tapi apakah pernah dipikirkan oleh MUI konsekuensi terhadap rakyat kecil setiap fatwanya?,” jelas Abdillah Toha dalam diskusi di PP Muhammadiyah mengenai “Keanekaragaman dan Intoleransi di Indonesia", Kamis (06/09/2012).
Sebelumnya, para politisi juga ikut-ikutan berkomentar masalah fatwa. Termasuk Anggota Komisi Hukum dari Golkar, Nudirman Munir dan Anggota Komisi Hukum dari Partai Persatuan Pembangunan, Ahmad Yani, juga ikut meminta MUI mencabut fatwa soal kesesatan Syiah dan juga menyahkan MUI Jawa Timur.
Karena itu, Murhali Barda meminta umat Islam memberikan dukungan moralnya kepada MUI Jatim. Biar bagaimanapun, katanya, mengeluarkan sebuah fatwa tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua itu melalui proses yang alot dan sudah dipertimbangkan kemaslahatannya. Kredibilitas ulama dan MUI akan hancur jika sebuah fatwa dibatalkan karena tekanan politis, apalagi hanya oleh penggiringan media massa.
Tanpa ragu Murhali mengatakan keberadaan fatwa ajaran Syiah adalah sesat oleh MUI Jatim adalah benar dan harus dihormati. (*/Coen).
KORBAN BOM DEPOK, 4 ORANG LUKA
Empat orang terluka
akibat sebuah ledakan terjadi di sebuah rumah yang terletak di Jalan
Nusantara, Beji, Depok, Jawa Barat, pada Sabtu malam (8/9).
"Ledakan terjadi sekitar pukul 21.30," kata Kapolsek Beji AKP Agus Widodo di lokasi kejadian.
Pantauan di lokasi kejadian, tampak sebuah rumah rusak parah. Di depan rumah tersebut tertulis sebuah spanduk yang masih utuh bertuliskan Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Klinik Pondok Bidara.
Ledakan menimbulkan kerusakan pada rumah tersebut. Kaca-kaca bangunan terlihat hancur dan pecah berantakan. Atap rumah yang terbuat dari seng juga hancur. Tetapi, hanya sedikit tampak adanya tanda gosong, bekas terbakar.
Garis polisi dibentangkan sepanjang 100 meter dari lokasi kejadian dan dijaga ketat aparat kepolisian.
Petugas piket Polsek Iptu Samiyono mengatakan, terdapat empat korban, di mana tiga terluka ringan, dan satu kritis.
"Tiga saksi diamankan, warga setempat menyatakan, ada dua orang yang kabur saat ledakan," kata Samiyono.
Para korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakti Bhakti Yudha, Depok.
Menurut kesaksian warga, ledakan terdengar hingga radius 200 meter. Seorang pedagang buah yang berjarak hanya sekitar delapan meter dari lokasi kejadian, Samiudin mengatakan, ledakan terjadi satu kali.
"Saya kira tadi ada gempa, saya sama istri dari dalam kios buah ini langsung keluar, karena bunyinya kencang dan getarannya kuat sekali, saya kira ada tiang rubuh," kata Samiudin.
Menurut Samiudin, ledakan terjadi pada sekitar pukul 21.30. Dia mengatakan ada dua orang terlihat lari menjauh saat ledakan terjadi.
Lokasi ledakan sendiri menurut dia merupakan sebuah yayasan yang baru dua bulan berdiri, dan jarang didatangi tamu.
"Kalau rumahnya sudah lama ada, tapi kalau yayasannya baru sekitar dua bulan. Penghuninya juga jarang berinteraksi sama warga," kata dia.
Hingga saat ini lokasi kejadian masih dijaga ketat aparat kepolisian. Tim gegana masih berusaha menyisir lokasi. (Coen).
"Ledakan terjadi sekitar pukul 21.30," kata Kapolsek Beji AKP Agus Widodo di lokasi kejadian.
Pantauan di lokasi kejadian, tampak sebuah rumah rusak parah. Di depan rumah tersebut tertulis sebuah spanduk yang masih utuh bertuliskan Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara, Klinik Pondok Bidara.
Ledakan menimbulkan kerusakan pada rumah tersebut. Kaca-kaca bangunan terlihat hancur dan pecah berantakan. Atap rumah yang terbuat dari seng juga hancur. Tetapi, hanya sedikit tampak adanya tanda gosong, bekas terbakar.
Garis polisi dibentangkan sepanjang 100 meter dari lokasi kejadian dan dijaga ketat aparat kepolisian.
Petugas piket Polsek Iptu Samiyono mengatakan, terdapat empat korban, di mana tiga terluka ringan, dan satu kritis.
"Tiga saksi diamankan, warga setempat menyatakan, ada dua orang yang kabur saat ledakan," kata Samiyono.
Para korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakti Bhakti Yudha, Depok.
Menurut kesaksian warga, ledakan terdengar hingga radius 200 meter. Seorang pedagang buah yang berjarak hanya sekitar delapan meter dari lokasi kejadian, Samiudin mengatakan, ledakan terjadi satu kali.
"Saya kira tadi ada gempa, saya sama istri dari dalam kios buah ini langsung keluar, karena bunyinya kencang dan getarannya kuat sekali, saya kira ada tiang rubuh," kata Samiudin.
Menurut Samiudin, ledakan terjadi pada sekitar pukul 21.30. Dia mengatakan ada dua orang terlihat lari menjauh saat ledakan terjadi.
Lokasi ledakan sendiri menurut dia merupakan sebuah yayasan yang baru dua bulan berdiri, dan jarang didatangi tamu.
"Kalau rumahnya sudah lama ada, tapi kalau yayasannya baru sekitar dua bulan. Penghuninya juga jarang berinteraksi sama warga," kata dia.
Hingga saat ini lokasi kejadian masih dijaga ketat aparat kepolisian. Tim gegana masih berusaha menyisir lokasi. (Coen).
POLISI HANYA AMANKAN 5 ORANG UNTUK DIPERIKSA
Polisi mengamankan
lima orang terkait ledakan yang diduga bom di sebuah rumah di Jalan
Nusantara, RT 04 RW 13 Beji, Depok, Jawa Barat, Sabtu malam.
Kapolres Depok Kombes Pol. Mulyadi Kaharni membenarkan diamankannya lima orang tersebut, namun Kapolres enggan memberikan keterangan lebih banyak.
Ketika ditanya apakah pelaku memiliki kaitan dengan Firman, seorang terduga teroris yang ditangkap Tim Densus 88 beberapa hari lalu di Depok, Kapolres menyatakan belum bisa memastikan.
Pihak polisi juga belum bisa memastikan bahwa ledakan yang terjadi di rumah yang digunakan sebagai kantor Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara tersebut berjenis bom.
Ledakan yang terjadi sekitar pukul 21.50 WIB tersebut mengakibatkan satu orang dalam kondisi kritis, tiga orang luka berat, dan dua orang luka ringan. Mereka saat ini dirawat di RS Mitra Keluarga dan RS Bhakti Yudha Depok.
Saat ini petugas dari Gegana Polri sedang menyisir lokasi kejadian yang menjadi tontonan warga sekitar. (Coen).
Kapolres Depok Kombes Pol. Mulyadi Kaharni membenarkan diamankannya lima orang tersebut, namun Kapolres enggan memberikan keterangan lebih banyak.
Ketika ditanya apakah pelaku memiliki kaitan dengan Firman, seorang terduga teroris yang ditangkap Tim Densus 88 beberapa hari lalu di Depok, Kapolres menyatakan belum bisa memastikan.
Pihak polisi juga belum bisa memastikan bahwa ledakan yang terjadi di rumah yang digunakan sebagai kantor Yayasan Yatim Piatu Pondok Bidara tersebut berjenis bom.
Ledakan yang terjadi sekitar pukul 21.50 WIB tersebut mengakibatkan satu orang dalam kondisi kritis, tiga orang luka berat, dan dua orang luka ringan. Mereka saat ini dirawat di RS Mitra Keluarga dan RS Bhakti Yudha Depok.
Saat ini petugas dari Gegana Polri sedang menyisir lokasi kejadian yang menjadi tontonan warga sekitar. (Coen).
BOM DEPOK, 1 ORANG TEWAS, 7 ORANG DITAHAN
Sebuah ledakan cukup keras terjadi di Jalan Nusantara Depok Utara, Jawa Barat, Sabtu malam.
Seorang saksi warga setempat Bella mengatakan ledakan terjadi sekitar pukul 21.15 WIB. "Saya lihat tiga orang terluka," ujarnya.
Hingga saat ini polisi masih mengamankan lokasi tersebut. Ribuan warga juga memadati tempat terjadinya peristiwa tersebut Polisi belum menentukan ledakan tersebut bom atau bukan..
Sebanyak tujuh orang diduga terlibat dengan ledakan bom di sebuah bangunan rumah kontrakan, di Jalan Nusantara, Depok,
Menurut Saksi Mata, Aditya Dani, ketujuh orang tersebut keluar dari lokasi bangunan yang terletak di sebuah tiang listrik tinggi milik PLN itu. "Ada tujuh orang. Satu yang tewas. Lalu ada Wulan dan ayahnya. Lalu ada dua orang yang lari dan sempat ditangkap sama warga sini, namun dilepas lagi. Lalu dua orang luka-luka. Satu di antaranya saya tahu adalah saudaranya Wulan, tapi saya tak tahu namanya," jelas Aditya, Sabtu (8/9) malam.
Wulan adalah penghuni salah satu dari tiga rumah kontrakan yang berada di lokasi TKP bom tersebut.
Dia tinggal dengan ayahnya dan dua adiknya. Wulan diketahui bekerja sebagai pramuniaga toko di ITC Depok, sama dengan salah satu adiknya perempuan bernama Puji.
Saat kejadian berlangsung, Puji tak terlihat. "Mungkin dia masih sedang bekerja, di ITC Depok juga," kata Encuk, seorang saksi lainnya. (Coen).
Seorang saksi warga setempat Bella mengatakan ledakan terjadi sekitar pukul 21.15 WIB. "Saya lihat tiga orang terluka," ujarnya.
Hingga saat ini polisi masih mengamankan lokasi tersebut. Ribuan warga juga memadati tempat terjadinya peristiwa tersebut Polisi belum menentukan ledakan tersebut bom atau bukan..
Sebanyak tujuh orang diduga terlibat dengan ledakan bom di sebuah bangunan rumah kontrakan, di Jalan Nusantara, Depok,
Menurut Saksi Mata, Aditya Dani, ketujuh orang tersebut keluar dari lokasi bangunan yang terletak di sebuah tiang listrik tinggi milik PLN itu. "Ada tujuh orang. Satu yang tewas. Lalu ada Wulan dan ayahnya. Lalu ada dua orang yang lari dan sempat ditangkap sama warga sini, namun dilepas lagi. Lalu dua orang luka-luka. Satu di antaranya saya tahu adalah saudaranya Wulan, tapi saya tak tahu namanya," jelas Aditya, Sabtu (8/9) malam.
Wulan adalah penghuni salah satu dari tiga rumah kontrakan yang berada di lokasi TKP bom tersebut.
Dia tinggal dengan ayahnya dan dua adiknya. Wulan diketahui bekerja sebagai pramuniaga toko di ITC Depok, sama dengan salah satu adiknya perempuan bernama Puji.
Saat kejadian berlangsung, Puji tak terlihat. "Mungkin dia masih sedang bekerja, di ITC Depok juga," kata Encuk, seorang saksi lainnya. (Coen).
Langganan:
Postingan (Atom)






