Halaman


Prabowo Subianto For Presiden

Sabtu, 08 September 2012

KEMARAU 3 BULAN, WARGA GUNAKAN AIR KOTOR

Musim kemarau tahun ini membuat sejumlah wilayah di Bekasi dan Jakarta krisis air bersih. Di Bekasi, Jawa Barat, sebagian warga terpaksa menggunakan air kotor untuk keperluan sehari-hari.

Warga Kelurahan Margamulya, Bekasi Timur, terpaksa mencuci pakaian di pinggir Kali Bekasi karena sumur mereka hanya mengeluarkan sedikit air bersih. Kini sumur yang masih mengeluarkan air bersih jadi diburu warga lainnya.

Kekeringan juga melanda beberapa wilayah di Jakarta, seperti di sungai kawasan Daan Mogot. Di Pintu Air Jembatan Gantung, misalnya. Debit air terpantau menurun dari kondisi normal. Tumpukan sampah juga menyebabkan air tidak bisa mengalir lancar. Padahal kebutuhan air bersih di Jakarta terus meningkat.(Coen).

Jumat, 07 September 2012

SOAL LH, BUPATI BEKASI BERHARAP PERAN PERUSAHAAN DALAM OPTIMALISASI CSR

Bupati Bekasi, Neneng Hasanah Yasin, impian untuk mendapatkan penghargaan bidang lingkungan hidup/Adipura merupakan harapan besar masyarakat kabupaten Bekasi. Pemerintah Kabupaten Bekasi nampaknya masih berangan-angan untuk meraih penghargaan Adipura.

Sedangkan dalam meraih penghargaan Adipura pada masa roda pemerintahan, dikatakannya, hal itu masih terlampau jauh. Neneng pun menyadari bahwa masih banyaknya kekurangan dalam bidang hal lingkungan hidup yang perlu dibenahi oleh seluruh masyarakat kabupaten Bekasi.

Pasalnya untuk meraih penghargaan dalam bidang lingkungan hidup itu, kabupaten Bekasi masih terganjal beberapa faktor yang masih krusial. Salah satunya dalam bidang kebersihan lingkungan yang belum juga menemukan jalan keluar agar kabupaten Bekasi menjadi wilayah yang bersih.

Selain itu, menurutnya, anggaran kebersihan diakuinya masih minim sekali, yakni sekitar Rp 300 juta hingga Rp 400 juta dalam satu tahun anggaran. “Saya pikir semua kabupaten dan kota mempunyai keinginan yang sama untuk meraih penghargaan Adipura, kita upayakan semaksimal mungkin," kata Neneng di Kompleks Perkantoran Pemerintahan Kabupaten Bekasi, Desa Sukamahi Kecamatan Cikarang Pusat, Jumat (7/9).

Diterangkannya, beberapa waktu lalu pejabat dilingkungan pemerintah kabupaten Bekasi sempat membicarakan berbagai persoalan mengenai lingkungan. Dana dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bekasi masih minim.

Neneng Yasin saat ditanya mengenai upaya rehabilitasi lingkungan yang saat ini luas areal ruang terbuka hijau (RTH) agak pesimis dengan semakin menyusut areal tersebut akibat berdirinya pabrik-pabrik. “Ceritanya kita saat ini lagi bermimpi dulu supaya Kabupaten Bekasi ini bisa lebih hijau lagi. Tapi belum tahu pada akhirnya apakah bisa betul-betul terwujud atau tidak?” katanya.

Dirinya sangat berharap pada optimalisasi Corporate Social Responsibility(CSR)  untuk rehabilitasi RTH yang ada di kabupaten Bekasi. Pihaknya saat ini mengharapkan kepedulian sosial perusahaan salah satunya dari Bank Jabar Banten (BJB) Kabupaten Bekasi yang telah menyanggupi membangun areal pertamanan di beberapa titik di Kabupaten Bekasi.

Saat disinggung mengenai fokus pembangunan di wilayah Kabupaten Bekasi, Neneng menuturkan, pada tahun 2013-2014 ini pihaknya akan fokus pada pembangunan dan perbaikan infrastruktur, temasuk perbaikan jalan yang menyedot anggaran milyaran hingga triliunan rupiah. "Kita akan fokuskan untuk pembangunan infrastruktur. Nantinya, pembangunan jalan-jalan lingkungan yang menghubungkan antara gang satu dengan gang lainnya akan dikurangi. Kita akan fokuskan untuk pembangunan jalan yang menghubungkan antar kecamatan,” katanya. (Coen).

KABUPATEN DEKLARASIKAN GERAKAN STABILITAS PENGUSAHA DAN BURUH (GSPB)

Dalam rangka  menciptakan  kenyamanan dan kebersamaan antara pengusaha dengan buruh di Kabupaten Bekasi, sejumlah elemen yang terdiri dari pengusaha, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), buruh dan masyarakat mendeklarasikan Gerakan Stabilitas Pengusaha dan Buruh (GSPB) yang dilaksanakan  di Grand Hotel Cikarang City, Jababeka, Kamis (6/9).
 
Acara tersebut dihadiri sekitar  1.500 massa, Danrem 051 WKT Kol Inf Purwanto, Dandim 0507/Bekasi, Ketua Kadin Kabupaten Bekasi H.Obing Fachrudin dan sejumlah elemen buruh.
 
Dalam sambutanya Koordinator GSBP Damin Sada mengatakan, deklarasi GSBP timbul dari hati nurani sebagai putra asli daerah Kabupaten Bekasi, sekaligus sebagai Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bekasi. Sebab katanya, dewasa ini kerap dan hampir tiap hari para buruh melakukan demonstrasi.
           
Meski demonstrasi diperbolehkan oleh Undang-undang, tambah dia, namun kerap membuat para pelaku pengusaha jadi kelimpungan. Untuk itu dirinya selaku masyarakat asli Bekasi, kadang merasa ikut terketuk hatinya. “Bagaimana agar persoalan yang terjadi antara pengusaha dan buruh bisa diselesaikan dengan jalur diskusi dan musyawarah. Sebab meskipun demonstrasi diatur dalam undang-undang namun juga berdampak pada jalannya produksi di perusahaan,” paparnya.
 
Untuk itu lanjut Damin, mari membangun Kabupaten Bekasi dengan ribuan perusahaan,secara bersama-sama. Sehingga satu sama lain saling menguntungkan. “Tidak ada perpecahan antar pengusaha dan buruh, sehingga bisa sinergi,” katanya seraya mengatakan, melalui deklarasi Gerakan Stabilitas Pengusaha dan Buruh (GSBP) dengan moto Pengusaha Tertawa Buruh Sejahtera, mudah-mudahan bisa menjadi jembatan antara pengusaha dan buruh.
 
Sementara itu Danrem 051/Wijayakarta Kolonel Inf. Purwanto mengatakan, sebagai Danrem sangat menyambut baik deklarasi GSBP. Sebab katanya, meskipun dirinya baru menjabat sebagai Danrem selama 2 bulan, sudah merasa bahwa Kabupaten Bekasi bagian darinya. “Mari kita sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban bersama, agar para pengusaha dan buruh bisa menjalin kerjasama yang baik,” pintanya. (bd)

DAERAH KAYA, TAPI SEKOLAH BELAJAR DI BANGUNAN HAMPIR RUNTUH

Meski Kabupaten Bekasi terkenal sebagai wilayah yang kaya raya karena berdiri ribuan industridi beberapa kawasan industri dan banyak berdiri  pusat perkantoran dan perumahan maupun pusat perbelanjaan, namun masih saja ada bangunan sekolah yang nyaris runtuh.
 
Untuk mendapatkan pendidikan yang baik, ternyata masih bisa menemukan siswa yang belum mendapatkan pendidikan yang baik. Sungguh memprihatinkan, jika kita mendatangi dan melihat langsung siswa SD Negeri Pasiranji 04 yang berada di Kampung Cireunde, RT. 02/01, Desa Pasiranji, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi yang harus mengikuti pelajaran di luar ruang kelas.
 
Sebanyak 106 siswa SD Negeri Pasiranji 04, mulai Senin (3/9) lalu, harus rela dan pasrah mengikuti pelajaran di bawah panas terik matahari. Hal ini disebabkan bangunan yang sudah puluhan tahun dan hampir roboh tersebut dibongkar karena sangat membahayakan siswa yang mengikuti pelajaran sekolah.
 
Rasa gembira yang harusnya menyelimuti siswa dan para pengajar setelah mendapatkan informasi kalau sekolahnya akan direnovasi harus dipendam karena  proyek pembangunan tersebut belum jelas.
 
Hal ini dikuatkan dengan tidak adanya papan proyek yang isinya nilai anggaran pembangunan dan pengerjaan pembangunannya.
 
Karmin, Kepala SDN Pasiranji 04 yang ditemui wartawan mengatakan, pembongkaran dilakukan karena bangunan itu dinilai sudah tidak layak dan membahayakan hingga bisa mengancam nyawa siswa.
 
Dia pun berharap agar pembangunan gedung di sekolah itu  bisa dilakukan secepatnya. Namun katanya, pada kenyataannya untuk nilai anggaran dan kapan dikerjakannya belum bisa diketahui oleh pihak sekolah. "Kami belum tahu kapan dikerjakannya, karena papan proyek juga belum kami lihat. Jujur untuk anggaran pembongkaran saja saat ini menggunakan anggaran sekolah," jelasnya.
 
Proses kegiatan belajar mengajar, tambah Karmin, tetap dilakukan, walaupun itu dilakukan di luar ruang kelas dengan menumpang di rumah warga sekitar.
 
Sementara Kepala UPTD Pendidikan Cikarang Pusat, Udin Badrudin saat dikonfirmasi   melalui telepon selulernya terkait proyek pembangunan di SD Negeri Pasiranji 04 mengatakan, pihaknya  tidak mengetahuinya. "Saya belum tahu, ini juga baru tahu setelah ada diinformasikan oleh kepala sekolah," singkatnya. (bd)

IKLAN UCAPAN SELAMAT ATAS DIRAIHNYA PENGHARGAAN TERBAIK I PENILAIAN SINERGITAS KINERJA KECAMATAN TINGKAT PROVINSI JAWA BARAT


WARGA PERUM BOUGENVILE KERAMPOKAN TAMU TAK DIUNDANG

Susi Widiasusina (50) mengalami musibah ketika rumahnya dikawasan perumahan Bougenvile disatroni kawanan perampok. Rumah Susi di Perum Bougenvile, Jl Dahlia I Blok C3, Jatibening, Pondok Gede, Bekasi, dirampok uang dan perhiasan senilai Rp 600 juta.


Hati-hati jika ada orang tak dikenal ketuk-ketuk pintu rumah. Sebaiknya intip dahulu siapa yang datang ke rumah kita, sebelum kita bukakan pintu. Modus perampokan dengan mendatangi rumah dan membekap orang yang membukakan pintu terjadi di Bekasi. Setelah menggasak barang-barang milik Susi, pelaku kabur. Kejadian ini dilaporkan ke Polsek Pondok Gede.



Informasi dari Humas Polda Metro Jaya, Jumat (7/9/2012), tiga pelaku tak dikenal tersebut datang mengetuk rumah Susi pada Kamis (6/9), pukul 11.30 WIB. Saat itu yang ada di dalam rumah hanya Dasiah (63). Dasiah pun membukakan pintu rumah.

Saat pintu terbuka, Dasiah langsung dengan cepat dibekap pelaku. Pelaku masuk ke dalam rumah dan mengambil brankas di dalam kamar yang berisi uang Rp 60 juta, US $ 2.500, dan beberapa lembar uang asing serta perhiasan. Total kerugian kurang lebih Rp 600 juta. (Coen).

KANTOR CABANG BANK EKONOMI DIBUKA DI KOTA BEKASI

 PT Bank Ekonomi Raharja Tbk (Bank Ekonomi) membuka cabang pertamanya di kota Bekasi untuk memperkuat pelayanan terhadap nasabahnya,

Direktur Network and Distribution Bank Ekonomi, Gimin Sumalim, mengatakan bahwa Bekasi sebagai kota bisnis yang terus berkembang di wilayah Jawa Barat menyimpan potensi pertumbuhan bisnis yang sangat besar dan merupakan pilihan yang tepat bagi Bank Ekonomi. “Hadirnya Bank Ekonomi di Bekasi ini merupakan wujud komitmen kami untuk selalu memastikan kepuasan nasabah melalui layanan kelas dunia yang prima, namun tetap menyesuaikan dengan kebutuhan setiap nasabah, yang selama ini telah menjadi pilar utama kekuatan Bank Ekonomi,” ujar Gimin dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tribun di Jakarta (07/09/2012).

Gimin mengungkapkan bahwa pembukaan cabang ini sejalan dengan upaya Bank Ekonomi untuk memperluas cakupan pasar agar dapat lebih mendekatkan Bank Ekonomi dengan para nasabahnya.
“Kami terus melakukan inovasi dalam meningkatkan jangkauan pelayanan perbankan guna memberikan nilai tambah bagi nasabah Bank Ekonomi.” Jelasnya.

Sementara itu, Andreas Winarsa selaku Pimpinan Cabang Bekasi menekankan bahwa dirinya melihat adanya peluang untuk memperbesar solusi capital untuk  supply chain bagi nasabah individu dan korporasi.
“Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi kami, telah dapat membuka cabang pertama kami di Bekasi dan kami juga berharap akan dapat membuka lebih banyak cabang baru di Indonesia.” tuturnya.

Peresmian kantor cabang di Bekasi ini merupakan kelanjutan atas pengembangan jaringan kantor cabang Bank Ekonomi yang sebelumnya telah memiliki 96 kantor cabang di 28 kota di seluruh Indonesia.

Selain tetap fokus pada sektor UKM, Bank Ekonomi Cabang Bekasi juga melayani nasabah perorangan dan nasabah korporasi berskala besar dan di dukung oleh infrastruktur perbankan kelas dunia yaitu  HSBC Universal Banking System  (HUB) serta akses ke berbagai layanan perbankan lintas-batas sebagai bagian dari lembaga keuangan global, HSBC group. (COEN)