Halaman


Prabowo Subianto For Presiden

Rabu, 05 September 2012

NAMA-NAMA TOP PENERIMA SATYA LENCANA KARYA SATYA

Tanggal 5 September 2012, Pemkot Bekasi mengadakan prosesi penganugrahan tanda kehormatan Satya Lancana Karya Satya dari pemerintah, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kepada 249 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) kota Bekasi yang telah mengabdi selama 10 tahun, 20 tahun dan 30 tahun. Ada beberapa nama top dijajaran pemkot kota Bekasi yang mendapatkan penganugrahan Tanda Kehormatan tersebut.

Dalam salinan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 62/ TK/ tahun 2012 tertanggal 6 Agustus 2012 nama Padlin Kamal tertera di dalam lampirean Keppres tersebut. Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Bekasi tersebut menerima tanda Kehormatan atas pengabdiannya selama 30 tahun lebih.

Selain Padlin Kamal, nama-nama seperti Sri Sudarsih, Hanny Haryati, Siti Yantini, dokter Sri Sutarsih, dokter gigi Anne Nurchandrani, dokter Ria Mekarwangi, Reny Hendrawati selaku kepala BPPT, dan Erwin Effendi menjadi PNS-PNS yang mendapat tanda Kehormatan dari presiden. 

Lalu Rayendra Sukarmadji selaku Sekretaris Daerah (Sekda) kota Bekasi juga ada dalam daftar nama penerima tanda Kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia. Nama top lainnya adalah Kariman, Endang Suharyadi, Alexander Zulkarnain, Ety Sumartini, Abi Hurairah, Heni Hendarwati, R.,rr. Yoewati, Edi Ruswandy, Suwardy, E. Nurjanah, Siti Hilia, Sudarsono, "lurah" Mardanih, Tugiman, Ratna Herawati dan Teguh Iman Santoso ada dalam daftar penerima tanda Kehormatan.

Nama-nama familiar yang terlihat lainnya adalah Zulkah Hidayat, Saurmauli Turnif, Lala Rosmala, Mohammad Ali, Sukarman, Welthy More Dameria, Sudirman, Lurah Zainal Arifin, Sih Gunawati, Ahmad Sungkawa,Rita Juita Felmi Yanti, Ali Sofyan, Widy Tawarman dan Andi Lala. Selamat dan semoga kesuksesan menyertai kepada seluruh penerima tanda kehormatan. (Don).

HUMAS POLDA; POLISI TIDAK AKAN BERHENTI SAMPAI DI KAMPUNG AMBON TIDAK ADA NARKOBA

Dari operasi yang dilakukan Polres Metro Jakarta Barat sejak Selasa (4/9/2012) kemarin, Anggota Polres menangkap 24 orang tersangka penyalahguna narkoba dari Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat. Sampai Rabu (5/9/2012) pagi ini penyidik masih memeriksa para tersangka.

"Polisi tidak akan pernah berhenti melakukan operasi di situ, selama masih diketahui adanya kegiatan penyalahguna narkoba di situ. Kita semua harus memerangi kejahatan ini untuk menyelamatkan kita semua dari kehancuran akibat narkoba," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Drs. Rikwanto, Rabu (5/9/2012) pagi.

Menurut Kabid Humas, operasi berantas narkoba di Kampung Ambon Selasa kemarin, berlangsung dua kali, pertama pada pukul 16:00 WIB dan pukul 20:00 WIB. Dari operasi tersebut ditangkap 18 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.

Barang bukti yang disita antara lain 37 paket sabu dan 10 motor. (HUM.POLDA).
Live from BlackBerry® on AHA - I like it!

Selasa, 04 September 2012

TIM DOKTER PENANGANAN ATIKAH BEKERJA HATI-HATI

Dokter Titi Masrifahati, direktur utama (Dirut) Rumah sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bekasi, menfasilitasi tim penanganan kesehatan Atikah Nurkhodijah, balita pengidap Hydrocephalus, untuk menjelaskan pada wartawan terkait kondisi Atikah dan penanganan tim. Bertempat di ruang rapat Direktur, dr. Titi Masrifahati memimpin langsung keterangan pers Tim dokter yang terdiri dari dokter ahli saraf dan specialis, manajemen RSUD Kota Bekasi dan HTI RSUD dengan wartawan.

Kondisi Atikah, dijelaskan tim dokter sangat rentan, membuat tim dokter berhati-hati dalam penanganan bayi Atikah yang diterangkan langsung oleh specialis anak dan specialis bedah saraf sebagai late case, dan rentan infeksi. "Ibu pasien sebenarnya sudah mengetahui kondisi anaknya sejak kelahiran, bentuk kepala yang besar, tapi tidak segera memeriksakan anaknya ke RS," kata dr. Charles, dokter specialist anak (4/9).

Dokter Charles menerangkan masa tanggap tersebut lewat dari 6 bulan sehingga kondisi Atikah menjadi sangat lemah dengan kepala berisi penuh cairan dan hampir tidak ada lagi otak si bayi. Pasien Atikah dibawa ke RsuD temasuk "late case", ditegaskan dr Charles, berakibat kerumitan karena penanganan langsung (pemberian alat bantu selang) bisa berakibat terjadinya infeksi.

Karena dalam keadaan sepsis (infeksi berat) dan cairan kepala yang sudah demikian banyak, sampai terjadi cairan kepala yang bocor merembes keluar dan berbau, akhirnya tim dokter memutuskan untuk mengembalikan ke kondisi umum. Diterangkan juga oleh Dokter Rudi, specialis bedah saraf, upaya untuk mengurangi cairan dikepala dengan memberi selang dengan kondisi pasien lemah sangat rawan terjadinya infeksi.

Dokter Rudi mengklasifikasi kasus Atikah ini termasuk kasus Hydrocephalus yang  berat, maka langkah Tim secara spsesifik adalah mengatasi infeksi beratnya dulu, memperbaiki gizi Atikah dan menghindari terjadinya infeksi terjadi. "Dari foto rontgen, kepala Atikah dipenuhi cairan yang semakin hari semakin membuat kepalanya membesar, kulitnya sangat tipis dan berakibat lecet, kalau diberi selang untuk mengurangi cairan beresiko infeksi," katanya.

Dalam keterangan pers tersebut disampaikan dr. Anthony D. Tulak SpP., Wadir RSUD Kota Bekasi bahwa biaya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah sesuai ketentuan yang ada. Pihak RSUD menerima rujukan pasien Atikah sudah dalam kondisi yang sangat berat dan butuh penanganan serius dan hati-hati. Atikah juga dijelaskan akan sangat sulit untuk hidup dalam kondisi normal mengingat kondisi penyakit Hydrocephalus yang dideritanya. (Don).

LIMA PASANGAN CALON LULUS TES KESEHATAN

Tubagus Hendy Irawan, Ketua Komisi Pemilihan Umum Kota Bekasi, menjelaskan bahwa 5 pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bekasi dinyatakan lulus tes kesehatan. "Lima pasang peserta Pemilihan Umum Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi dinyatakan sehat jasmani dan rohani untuk menjalankan tugas sebagai kepala daerah dan wakil kepala daerah," katanya  (4/9).

Kandidat lolos tes kesehatan yang dilaksanakan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto di Jakarta Pusat, Selasa (28/8/2012). Kelima pasangan dimaksud adalah Shalih Mangara Sitompul-Anwar Ansori Mahdum (independen), Sumiyati Mochtar Mohamad-Amin Imanudin, Dadang Mulyadi-Lukman Hakim, Rahmat Effendi (petahana)-Ahmad Syaikhu, dan Awing Asmawi-Andi Zabidi.

Lolosnya kelima pasang kandidat juga ditegaskan dalam Surat Keputusan Ikatakan Dokter Indonesia (IDI) Kota Bekasi Nomor 21/1207/IDI.BKS/SK/VIII/2012 tentang Hasil Pemeriksaan Kemampuan Jasmani dan Rohani bagi Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi Masa Jabatan 2013-2018. "Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengujian terhadap kemampuan bakal calon, secara jasmani dan rohani mereka mampu melaksanakan tugas sebagai wali kota atau wakil wali kota," kata Hendy.

Hendy mengatakan, SK IDI diterima KPU Kota Bekasi pada Senin (3/9/2012). Hasil pemeriksaan kesehatan merupakan salah satu persyaratan yang harus dilengkapi para kandidat."Hasil pemeriksaan tes kesehatan belum bisa dijadikan dasar lolos tidaknya bakal calon. Masih ada sejumlah persyaratan lain yang harus dipenuhi," Hendy. (Don).

RUANG KOTA SEBAGAI WADAH KOEKSISTENSI 2?

Di kehidupan kota, sebuah tempat parkir di sepenggal jalan adalah teater dari hubungan formal – informal ini. Petugas parkir yang biasanya adalah pemuda kampung setempat, polisi di kantor terdekat yang memanfaatkan ruang kelabu antara larangan parkir dan ketiadaan tempat parkir legal, petugas pajak dan retribusi yang ‘melegalisir’ kartu-kartu parkir, pedagang kaki lima dan pengamen yang memanfaatkan sela-sela ruang yang dikoordinasi oleh preman yang berkuasa di area tersebut, toko atau kantor yang membutuhkan tempat dan petugas parkir untuk mengatur lalu lintas pelanggan adalah jaringan yang tak tampak tetapi nyata-nyata ada. Sebuah ruas jalan kadang dipenuhi pedagang kaki lima yang membuat jalan seakan macet adalah sebuah mekanisme ‘go slow’ yang memungkinkan terjadinya transaksi-transaksi informal antar pedagang yang menawarkan dagangan dan pengendara yang menengok kanan-kiri melihat warung yang sesuai dengan selera.


Dalam perspektif ini, maka jalan adalah sebuah ruang sosial yang kaya akan relasi dan bukan semata sebuah infrastruktur kota. Dalam perspektif ini, jalan tersebut adalah sebuah ruang sosial yang mungkin tampak khaos, meminjam istilah Deleuze, adalah ‘sum of possibilities’ yang kaya akan relasi. Jalan sebagai ruang sosial dengan demikian akan mengundang perlambatan bahkan perhentian untuk memberi kesempatan pada relasi sosial untuk terbentuk secara instan dan temporer.


Wacana seperti itu, kini, juga sedang digugat dalam melalui wacana yang dikembangkan oleh Rem Koolhaas, seorang arsitek bintang dari Belanda yang masa kecilnya pernah tinggal di Indonesia. Dalam pengamatan Koolhaas terhadap fenomena di kota Lagos, Nigeria, kampung-kampung yang kumuh sebenarnya menampilkan rupa yang berbeda ketika ia dilihat dari udara. Dari helikopter kepresidenan yang berhasil ia sewa, Koolhaas melihat bahwa tumpukan drum, ban bekas, dan barang-barang kumuh lainnya ternyata merupakan sebuah ‘organisasi’ yang secara sistematis mengolah dan mendistribusikan barang-barang tersebut menjadi komoditas yang lebih berguna. Dalam ‘Fragments of Lectures on Lagos’ yang menampilkan dua perspektif yang berbeda tersebut Koolhaas ingin memperlihatkan kekurangan validitas pengetahuan kita terhadap fenomena informalitas di Lagos.

Dalam  melihat sebuah fenomena, kita sering menyimpulkan berdasar asumsi dan prekonsepsi yang ternyata bisa menjadi sangat berbeda ketika cara pandangnya diubah. Dipandang sekilas, kota-kota di Afrika adalah kota yang kheos, berantakan, bahkan dikatakan sebagai kota yang disfungsi. Tetapi dengan pengamatan yang lebih mendalam Koolhaas mengetahui bahwa kheos tersebut ternyata adalah bagian dari mekanisme yang lebih besar yang melibatkan proses-proses dalam kota tersebut untuk mengorganisasi dirinya secara organis. Simpulnya: ‘From the air, the apparent burning garbage heap turned out to be, in fact, a village, an urban phenomenon with a highly organized community living on its crust. Our preoccupation with the apparently ‘informal’ had been premature, if not mistaken.’ The interweaving between traffic and humans, between infrastructure and bodies, is a very effective way, if not an ‘intelligent’ one’ (Koolhaas
2003).

Intinya, ketika kita menilik aspek ini maka kota-kota di Asia telah jauh lebih ‘maju’ ketimbang kota-kota Eropa. Di masa mendatang, terutama di kota-kota besar, merekalah yang akan menjadi lebih mirip kota Asia. Bukan sebaliknya. Seperti batu bata yang menjadi cikal bakal sebuah rumah, informalitas terpraktikkan di kota sebagai cikal bakal dari kota itu sendiri. (ILYA F. MAHARIKA).

Senin, 03 September 2012

RUANG KOTA SEBAGAI WADAH KOEKSISTENSI 1?


Sering dalam bayangan kita, kota-kota Indonesia (dan Asia pada umumnya) adalah ‘ketinggalan’ bila dibandingkan dengan kota-kota di Barat. Pandangan ini tentu saja benar jika kita membandingkan antar keduanya di bidang infrastruktur atau keindahan visual (lebih khusus lagi ‘kerapian’ dan ‘keteraturan’ ruang kotanya). Akan tetapi cara pandang ini bisa salah ketika kita melihat kota sebagai sebuah wadah bagi ko-eksistensi antara yang formal dengan yang informal.

Ramesh Kumar Biswas misalnya menggambarkan dengan sangat apik bagaimana jaringan-jaringan informal kota Mumbai mampu menciptakan aliran pasokan makanan bagi warga kota itu yang multi etnis dan multi religius. Bagaimana daging babi tidak jatuh ke tangan warga Muslim dan daging sapi tidak sampai ke warga Hindu adalah jejaring informal yang tanpa bentuk namun sangat efektif dan efisien bekerja untuk kota yang didiami lebih dari 10 juta jiwa itu (Biswas 2000).

Koeksistensi melalui ruang tercipta pula melalui model operasi sektor informal. Mengulang apa yang diikhtisarkan oleh Michel de Certeau, Margaret Crawford membedakan bahwa ada dua model operasi: strategi yang berbasis spasial dan taktik yang berbasis temporal. Strategi biasa dipraktikkan oleh mereka yang mempunyai kekuasaan karena berbasis pada postulat bahwa ‘tempat dapat dibatasi sebagaimana miliknya dan melayani sebagai basis dimana relasi dengan eksteriornya yang terdiri dari target ataupun ancaman dapat dimenej’ (a place that can be delimited as its own and serve as the base from which relations with an exteriority composed of targets and threads can be managed’).

Berlawanan dengan itu, taktik adalah cara beroperasi yang tidak memerlukan tempat khusus atau tempat yang sesuai, jadi sangat tergantung pada waktu. Taktik adalah ‘art of the weak’ yang menyelinap diantara jaring-jaring ruang yang sudah dikuasai (Crawford 1999).

Di China, villa-villa petani yang tumbuh sebagai kampung kota di Delta Sungai Mutiara (terkenal sebagai Pearl River Delta – PRD) juga merupakan hasil sebuah perkembangan kota yang instan dalam kurun kurang dari 20 tahun dimana jaringan-jaringan sosial dan informal lah yang lebih dominan berperan ketimbang mesin
produksi ruang dari negara yang hanya berfokus pada pertumbuhan kota. Tulisan kecil penulis di Kompas mengungkap fakta dibalik indahnya kota-kota China.15 Di delta itu, kota adalah entitas formal yang untuk pembentukannya diperlukan tidak hanya perangkat administratif tetapi juga pagar fisik. Kota Shenzhen misalnya adalah kota yang sepenuhnya berpagar, sebuah gated city yang berpenduduk kurang lebih 6 juta jiwa. Untuk memasuki kota itu, seseorang perlu mempunyai bukti kependudukan yang adekuat. Mekanisme itu dipakai untuk menghindarkan banjir kaum pendatang yang tidak mempunyai cukup ketrampilan bagi sektor formal di kota.

Namun demikian, strategi disintegrasi ini tak selamanya dapat berjalan dengan baik. Rembesan muncul di sana-sini apalagi ketika tumbuh ‘kota informal’ hasil mutasi pemukiman petani di sekeliling kota berpagar itu yang kemudian dipenuhi oleh kaum pendatang. Hubungan antara kota yang sepenuhnya formal dengan
kebocoran-kebocoran itu menciptakan hubungan dinamis antara keduanya. Salah satu ‘keberhasilan’ Shenzhen dan kota-kota di Delta tersebut dalam menjaga keindahannya adalah karena adanya buffer zone yang informal di sekeliling kota. Di sinilah sebenarnya, dinding pagar yang tipis dan fisikal itu telah menjadi ‘tebal’ dalam konteks sosial ekonomi. Ia menjadi zona kelabu dimana transaksi antara formal dan informal terjadi.

Di Yogyakarta, dari penelitian yang saat ini penulis sedang lakukan, terindikasi bahwa pangsa perumahan disuplai oleh dua golongan besar. Pertama adalah para ‘pengembang besar’ (misalnya yang tergabung dalam REI) yang mampu membebaskan lahan sesuai dengan aturan-aturan perumahan yang baku. Kedua adalah para ‘pedagang rumah’ yang membangun rumah dalam jumlah kecil (kadang hanya 5 rumah tetapi telah menyebut dirisebagai ‘perumahan’). Mereka memanfaatkan celah-celah dalam sistem tata atur perumahan sehingga tidak memerlukan ijin sebagai sebuah perumahan tetapi eksis di pasar sebagai pengembang perumahan. (ILYA F. MAHARIKA)

Minggu, 02 September 2012

ANGGOTA CODE SMUTs VERSI FACEBOOK



  • BERDASAR Negara?
    75
    Indonesia
  • BERDASARKAN Kota?
    23
    Kota Bekasi
    3
    Kota Bandung
    2
    Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    2
    Kota Bogor
    2
    Cikarang
    1
    Cikarang, Jawa Barat
    1
    Bukittinggi, Sumatera Barat
    1
    Kota Yogyakarta
    1
    Surabaya, Lampung
    1
    Kota Makassar
    1
    Lombok, Nusa Tenggara Barat
    1
    Gresik, Jawa Timur
    1
    Purwokerto, Jawa Tengah
    1
    Bengkalis, Riau
    1
    Kota Medan
    1
    Cibubur, Jawa Barat
    1
    Kota Malang
    1
    Kota Surabaya
    1
    Kota Payakumbuh

  • Bahasa?
    60 orang
    Bahasa Indonesia, 15 orang Bahasa Inggris (AS)






























Jenis Kelamin dan Usia?
Perempuan 25,3%
8%6,7%6,7%4%



13-1718-2425-3435-4445-5455-6465+
Laki-laki 73,3%
17,3%20%21,3%13,3%
1,3%