Halaman


Prabowo Subianto For Presiden

Minggu, 07 Maret 2010

GERAK JALAN MASSAL MERIAHKAN HUT KE-13 KOTA BEKASI


Tepat pukul 06.00 WIB. jalan A. Yani kembali ditutup dalam rangka Car Free Day 2010 yang dilakukan Dinas Perhubungan bekerja sama dengan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Kota Bekasi.Arus jalan dialihkan ke jalan Ceves, Jalan Rawa Tembaga dan jalan Kemakmuran. Pada kegiatan Car Free day hari ini juga disemarakkan kegiatan gerak jalan massal menyambut Hari Ulang Tahun Kota Bekasi yang ke-13.

Kegiatan Car Free Day yang kontinyu diadakan memiliki satu arti penting bagi masyarakat Kota Bekasi. Komitmen bersama untuk mengurangi pencemaran udara di pusat kota dan pemulihan kondisi lingkungan hidup Kota Bekasi. "Penanaman ratusan ribu pohon yang dilakukan masyarakat secara serentak diharapkan dapat memberi pasokan oksigen dan membersihkan udara kota Bekasi dari polusi" ujar Endang Bachrudin Koordinator BUKALAM, sebuah kelompok pencinta alam beranggotakan anak-anak muda di daerah Kauman Bekasi yang datang menggunakan sepeda bersama anak dan teman-temannya.

Sedangkan kegiatan Gerak Jalan Massal menurut Ketua Panitia Teddy Malik diikuti oleh 22.000 peserta dari berbagai tempat, instansi, sekolah, kesatuan dan organisasi kemasyarakatan se-Kota Bekasi. Selain gerak jalan panitia juga mengadakan door prize dan penilaian lomba. Acara dimeriahkan Band dan tari-tarian asli Bekasi dilaksanakan dipanggung terbuka yang berada tepat di depan Kantor Sistem Administrasi Manunggal di bawah Satu Atap (SAMSAT) Kota Bekasi. Selain itu kegiatan ini pun dimeriahkan oleh kehadiran Komunitas Onthelis dari Karawang yang hadir dan memarkir sepedanya diruas jalan depan Komplek stadion Patriot Bekasi.

Dalam ajang panggung hiburan ditampilkan grup-grup band, modern band dan tari daerah yang dpersembahkan sekolah-sekolah mulai dari SD sampai dengan SMU. Salah satu penampilan Band yang memikat pengunjung adalah Anak Band. Sebuah Grup Band SMU 5 Bekasi yang tampil menyanyikan salah satu tembang yang dipopulerkan Crisye dan sebuah tembang karya grup itu sendiri "Yang Pertama". Grup band beranggotakan Siti Chairani Putri (drum), Beraldy Dean Utama (Rythem), Aditya Descara Putra (Melodi), Rianda Pratama (Bass), Suci Nurika Haviza (Vokal) dan Rizky Wulandari (Vokal) mampu memberi semangat para peserta gerak jalan dan para pengunjung. (Don)

Minggu, 31 Januari 2010

PERLUASAN PENDIDIKAN GRATIS DAN KAPASITASI GURU


Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi, mulai 2010, memperluas pendidikan gratis untuk kelas satu sekolah menengah atas negeri (SMAN) dan sekolah menengah kejuruan negeri (SMKN). Jumlah subsidi yang diberikan pada siswa adalah Rp. 100 ribu. Siswa SMU swasta juga diberi bantuan sebesar Rp. 25 ribu rupiah ujar anggota DPRD komisi D yang tak ingin disebut namanya.

Sebelumnya, Pemkot membebaskan biaya sekolah untuk sekolah dasar negeri (SDN) dan sekolah menengah pertama negeri (SMPN).

Wakil Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengatakan petunjuk pendidikan gratis tersebut sedang digodok. Namun, dana sudah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2010 sebesar 80 miliar rupiah mulai SD, SMP hingga kelas I SMAN.

“Kita kemungkinan memberikan pendidikan gratis pada siswa kelas satu SMAN/SMKN agar ketika naik pada kelas dua, mereka juga bisa mendapat pendidikan tanpa bayar, begitu juga ketika berada di kelas tiga,” papar H. Rahmat.

Ia menambahkan, pendidikan gratis tersebut bukan semuanya gratis. namun ada beberapa komponen yang digratiskan, sedangkan pada 2009 dibebankan pada siswa.

“Biaya pendidikan per bulan untuk seorang siswa SMAN mencapai 450 ribu rupiah. Kita belum mampu membebaskan pengenaan biaya pendidikan seluruhnya,” ujarnya.

Pemkot mengalokasikan dana di APBD sebesar 38 persen dari total 1,8 triliun rupiah untuk anggaran pendidikan. Jumlah ini jauh di atas amanat Undang-Undang Dasar 1945 yang minimal 20 persen dari APBD.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kodrato menyatakan akan segera menyosialisasikan keputusan itu kepada kepala sekolah agar bisa diterapkan setelah dana APBD sektor pendidikan dicairkan.
“Ke depan, pendidikan gratis akan diupayakan hingga menjangkau seluruh siswa SMAN,” ujar Kodrato.

Selain pendidikan Gratis sampai kelas 1 SMU. Pemda juga akan memberikan bantuan kepada guru untuk dapat meningkatkan pendidikan mereka. Pendidikan guru (termasuk guru Pendidikan Anak Usia Dini) akan disetarakan dengan pendidikan Strata 1 (S1).(Don).

Koorporasi Responsif Sosial di Kota Bekasi


Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA)Kota Bekasi saat ditemui di kantor menyampaikan harapannya untuk adanya sinergi dunia usaha dengan Bekasi Sosial Responsible (BSR) dalam bidang pendidikan. Bentuknya berupa kerja sama antara perusahaan-perusahaan baik yang ada di Kota Bekasi maupun sekitarnya dalam program peningkatan kualitas peralatan latih Sekolah Kejuruan atau SMU setingkatnya. Peralatan media belajar berupa mesin produksi atau sejenisnya akan digunakan untuk menggantikan peralatan model lama yang masih digunakan.

Peralatan tersebut dimaksudkan agar sekolah yang ada mendapatkan manfaat tekhnologi dan pengetahuan terkini. Selain hal tersebut kerjasama juga dimaksudkan sebagai wujud perhatian perusahaan kepada masyarakat sekitar atau yang lebih dikenal dimasyarakat umum sebagai Korporasi merespon persoalan sosial. Sudah ada beberapa sekolah mendapatkan bantuan dari perusahaan Seperti TOSIBA. Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 2 Bekasi misalnya. Kedepan diharapkan kerja sama dapat dilakukan disseluruh sekolah yang ada di Kota Bekasi.

Drs Dadang Hidayat menambahkan bahwa upaya tersebut dilakukan agar lulusan sekolah-sekolah kejuruan dan juga SMU memiliki kemampuan yang sesuai dengan kondisi yang ada. Sehingga pasar kerja akan lebih besar peluangnya pada siswa-siswa lulusan. Kemampuan membaca peluang pasar kerja disesuaikan dengan kemampuan mengadopsi tekhnologi dan ilmu pengetahuan yang berkembang menyeuaikan zaman.

Walikota dalam acara pengukuhan APINDO beberapa waktu lalu menyatakan bahwa peran serta perngusaha-pengusaha Kota Bekasi akan membantu terwujudnya kesejahteraan dimasyarakat. Jika Masyarakat sudah sejahtera tidak lagi dibutuhkan subsidi. peran serta dunia usaha ikut mendorong penguatan masyarakat. Walikota mencontohkan besaran subsidi yang diberikan pada anak usia SD sampai dengan SMU kelas 1 yang ada di Kota Bekasi.

Dikatakan Walikota Bekasi, nantinya perusahaan dan juga pengusahannya tidak kerepotan harus menanggung persoalan sosial yang lahir karena kondisi masyarakat yang lemah. Oleh sebab itu peran para pengusaha sangat diharapkan untuk dapat membantu mengurangi beban melalui dukungan pada dunia pendidikan, misalnya. (Don).

GEMAR ADIPURA


Gemar (Gerakan Masyarakat Peduli Adipura) Adipura melakukan himbauan kepada masyarakat supaya bersih indah hijau. Mudah-mudahan dengan himbauan ini kota Bekasi mendapatkan adipura. Gerakan ini dilakukan diseluruh kota Bekasi. sebagai wujud kepedulian masyarakat kepada kotanya.

Sekarang sudah kelihatan hasilnya. Jalan, lingkungan perumahan, sekolah, perkantoran semuanya sudah bersih dan indah dilihat.

Sekarang Gemar Adipura menyarankan masyarakat untuk mengadakan satu pot bunga setiap 10 meter.

"Setiap Jum'at dan Sabtu ada kegiatan bersama dan serentak dieluruh wilayah Kota Bekasi untuk membersihkan lingkungannya", demikian dikatakan Haji Nurman Ruslan Wakil Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Adipura. Ditingkat Kecamatan ada pengurus GEMAR Adipura, dan ada Surat Keputusan Walikota Bekasi.

Tentang Penilaian Adipura sendiri, H. Nurman mengatakan pada Ekpos Penilaian Adipura yang lalu kota Bekasi mendapatkan nilai cukup bagus 7,0. Ada beberapa titik pantau yang saat ini ditingkatkan keberihannya karena nilainya masih pas-pasan. dan penilaian setelah P1 yang dilakukan tim penilai pusat dimulai dari bulan Januari Sampai dengan bulan April 2010.

H. Nurman menerangkan peluang Kota Bekasi cukup besar. saingan Kota Bekasi hanya Kota Tanggerang. GEMAR Adipura juga gencar melkukan penyuluhan masyarakat untuk meningkatkan peran serta dalam menyukeskan Adipura. (Don)

Selasa, 26 Januari 2010

BEKASI BEBENAH KAMPUNG


Upaya untuk menyukseskan Adipura tahun 2010 saat ini banyak dilakukan di Kota Bekasi. Kegiatan K-3 diberbagai lingkungan dilakukan dengan menggelar berbagai apel kesiapan warga menyukseskan adipura. Saya sepaham dengan model penghargaan adipura secara umum, bahwa adipura bukanlah kompetisi melainkan kesadaran yang terbangun dikalangan masyarakat dan pemerintah daerah untuk membersihkan lingkungannya agar kotanya sehat.

Pembentukan Gerakan Masyarakat Cinta Adipura dan terbentuknya oraganisasi pemuda cinta lingkungan "BUKALAM" jauh hari sebelum Adipura misalnya. Bagi saya sudah merupakan ketulusan dari masyarakat untuk dapat berpatisipasi secara langsung dalam merawat dan menjaga lingkungannya. Walaupun banyak kalangan melihatnya sebagai akselerasi yang dilakukan pemkot melalui pendekatan dengan tokoh masyarakat untuk menyukseskan adipura. Penilaian positif harus tetap kita sematkan pada semangat yang terbangun.

Partisipasi adalah kata kunci untuk terciptanya kesadaran dan rasa kepemilikan terhadap kota yang ditinggali. Dengan partisipasi masyarakat, dominasi pemerintah dapat berkurang dalam kegiatan-kegiatan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan publik. Masyarakat menjadi subyek dari perubahan yang terjadi dan memegang peranan penting dalam mewujudkan kota sebagai wilayah yang sehat, nyaman dan layak untuk dihuni.

Sebagai saran dari proses yang sudah terjadi, kiranya gerakan tersebut dapat dijadikan sebagai gerakan masal untuk membenahi kampung. Sebuah pemikiran sederhana dan berharap mendapatkan nilai lebih dari proses yang ada. Secara tidak langsung kegiatan yang dilakukan dapat memberikan pelajaran juga pada warga masyarakat dalam penataan lingkungan dan pemukiman. Menemu-kenali lingkungan menjadi ilmu yang dapat diperoleh dengan partisipasi masyarakat dalam kegiatan.

Banyak nilai-nilai akan diperoleh dengan adanya kesadaran untuk berpartisipasi dalamkegiatan bebenah kampung. Selain kerjasama, sharing, sosialisasi lebih intens dan tentunya inovasi akan hadir dengan tujuan yang sama, diraihnya Adipura. Seperti basic empiris yang kita ketahui; Mendengar cepat lupa, melihat kurang mengerti, melakukan akan paham. Partisipasi dapat menjadi finishing dari gencarnya iklan radio, spanduk, pamflet dan berbagai bentuk seruan yang telah dilakukan. Sederhana, apa yang dilakukan Wakil walikota Bekasi dengan melakukan ikrar dan kegiatan K-3 dilingkungan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan adalah suatu bentuk kongkrit tumbuhnya partisipasi dimasyarakat. (Don).

Rabu, 13 Januari 2010

Melorotnya Genteng Sekolah

Hari ini capek sekali. seperti biasa saya jalan lagi kebeberapa tempat yang harus saya datangi. Seperti pesan pimpinan redaksi tentang kredibilitas laporan; faktual, kritis dan tetap santun. Hal tersebut menjadi patokan dalam melakukan aktivitas tidak lanjut laporan atau rutinitas "memburu" berita.

Ada hal menarik ketika menengok sekolah yang sedang direhab di Duren Jaya. Tepatnya SDN Duren Jaya VI. Biasa kita dengar kejadian saat syuting atau audisi ada kemben melorot. Kali ini yang terjadi adalah genteng yang melorot dan pecah berantakan. Kondisi sekolah yang agak berantakan, ketidaksiapan pelaksana dan ketidaksesuaian pemberitan beberapa teman dengan kenyataan dilapangan.

Krisman Rusandi kasi kelembagaan dikdas pada Dinas Pendidikan Kota Bekasi yang ditemui dilokasi dengan segenap kemampuannya mencoba menjelaskan kronologis sesungguhnya. Sayang situasi dilapangan tidak cukup mendukung. Ada beberapa keanehan. Contoh kecil adalah flapon yang tidah optimal diperbaiki dan bahkan ada yang belum sama sekali diperbaiki. Penurunan Baja ringan, yang menurut Krisman sebagai ganti yang rusak, juga sama sekali tidak membantu dan atau apalagi meringankan.

Di lokasi juga ada polisi bernama Agus yang menjelaskan detik-detik saat genteng melorot. Agus sambil membuka catatannya dalam buku besar yang kebetulan ia bawa dari polsek Bekasi Timur menceritakan melorotnya genteng terjadi pukul 03.30 WIB tanggal 8 Januari 2009. Dalam catatannya tertulis 50 unit genteng yg jatuh pecah berantakan. Hasil penyelidikannya ada baja ringan yang “meleyot”. Sedangkan Krisman mencoba memperhalus bahanya menjadi sekedar turun. Lalu difoto pasca genteng melorot terlihat bangunan itu sepintas atap hampir sempurna. Anehnya, baja ringan diganti secara cepat namun sampai dengan saya bahkan DPRD Kota Bekasi datang masih diturunkan dan kemudian disusun lagi (yang baru ditukar).

Sontak teman-teman saya tetap tidak puas atas penjelasan panjang lebar staf disdik tersebut diatas. Pertanyaan seputar tekhnis pelaksanaan sampai dengan spesifikasi bahan bangunan yang digunakan terlontar semua. Sayang argumentasi pada akhirnya menjadi debat kusir. Argumentasi staf bahwa anggaran yang digunakan adalah Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bersumber dari APBN 2009 yang alih-alih disebut dengan hibah menjadi argumentasi pamungkas. Padahal menurut saya pribadi, pertanggungjawaban dan kualitas pekerjaan serta evaluasi hasil pekerjaan temenjadi ukuran keberhasilan penyerapan anggaran.

Saya langsung berkesimpulan bahwa situasi operasional SDM pemkot masih ajeg dan belum berubah ke arah yang lebih menggembirakan. Dalam kontek Good Government dan Clean Government semestinya aspek-aspek administrasi aturan, tekhnis sampai dengan report adalah sebuah sistem yang bekerja dan menjadi acuan. Dana DAK sebesar Rp. 12,65 milyar adalah jumlah yang tidak sedikit. Disaat masih banyak bangunan sekolah yang memerlukan perhatian serius untuk diperbaiki atau bahkan rehab total.

Banyak kerancuan ditemukan dilapangan. Sayang sekali DPRD Kota Bekasi juga tidak dapat maksimal melaksanakan perannya. Saya berpendapat kedatangan yang dilakukan DPRD Kota Bekasi menjadi kurang arti. Tidak ada notulensi, hanya berdebat dan tidak mungkin akan melahirkan solusi versy peran mereka. Besaran masalahnya adalah DAK dan pengimplementasiannya di 29 sekolah dan 48 ruang perpustakaan sekolah. Artinya tidak hanya yang sudah “melorot” itu.

Kesan itu saya dapat dari aktifitas, komentar dan interaksi yang terjadi. Alangkah sepelenya eksekutif dan legislatif dalam memaknai berbagai penyerapan anggaran kalau ujung-ujungnya hanya tinggal memperbaiki administratif dan dilupakan. Padahal masyarakat berharap sinergi elemen-elemen tersebut agar kualitas pelayanan masyarakat dapat meningkat. Refleksi saya pribadi betapa anggaran yang notabene uang rakyat itu hanya dihargai dengan telah diserap dan DPRD sudah lihat dan setuju. Padahal impian banyak orang adalah pemerintahan yang bersih dan baik.

Ya, karena dari sanalah awal dari peningkatan kesejahteraan masyrakat akan berangkat. Dalam obrolan lepas dengan staf diknas bahkan dapat dianalisa bahwa audit pemerintah pusat itu sangat menakutkan, sekolah mau terima DAK karena ada bahasa hibah. Sedih sekali hati ini mendengarnya. Banyak warga sudah berfikir tentang pendidikan bahwa pemerintah itu “the best interest for the children”, lah kok masih ada yang mentok pikirannya pada, “diaudit ngga ya? Lalu yang audit BPK apa Cuma BPKP wilayah Jabar?”. Aduh, masih berapa banyak situasi seperti tersebut ditemukan di institusi pemerintah Kota Bekasi . Sehingga keberanian alokasi pendidikan gratis sampai SMU memiliki target ideal dengan waktu yang terukur, agar masyarakat beranjak sejahtera lahir batin. (Don).

Kamis, 07 Januari 2010

BANJIR, WARGA DESAK PERBAIKAN SALURAN AIR


Warga di Perumnas III, Kelurahan Aren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, mendesak pemerintah setempat untuk memperbaiki drainase guna mengantisipasi persoalan banjir.

"Setiap hujan turun lebih dari tiga jam, perumahan kami pasti tergenang air setinggi betis orang dewasa," ujar Dimas Prayoga, warga jalan Bali RT01 RW04 Perumnas III.

Banjir yang melanda kawasan perumnas III itu, terjadi di sepanjang jalan Bali, dan Nusantara. Diperumahan itu, terdapat sedikitnya 300 Kepala Keluarga (KK).

"Penyebabnya, selain saluran air mampet akibat tertimbun lonsoran tanah dan rusak, lebar saluran hanya sekitar 30 sentimeter dengan kedalaman 25 sentimeter, sehingga tidak mampu menampung air hujan," katanya.

Saluran air di perumnas III ini banyak yang rusak dan tertimbun lonsoran tanah, sehingga arus air tidak lancar ketika hujan deras.

Kerusakan drainase di perumahan tersebut, kata dia, sudah berlangsung selama empat tahun terakhir, bahkan warga telah melayangkan surat ke pejabat instansi terkait untuk memperbaiki saluran air tersebut, tetapi belum mendapat tanggapan.

"Sekarang ini, hampir tiap hari Bekasi diguyur hujan deras sehingga ratusan warga menjadi khawatir, karena pekan lalu kawasan ini juga dilanda banjir dengan ketinggian air sekitar 80 sentimeter dan merusak perabotan rumah tangga," katanya.

Menanggapi hal itu, kepala Dinas Bina Marga dan Tata Air, Kota Bekasi, Agus Syofyan mengatakan perbaikan drainase di Kota Bekasi akan menjadi prioritas dari program Dinas Bina Marga pada 2010.

"Termasuk yang di Perumnas III. Kami akan mencoba untuk menganggarkannya," kata Agus.

Agus mengatakan, pada 2010 dari dana APBD sebesar Rp 200 miliar, senilai Rp 140 miliar akan digunakan untuk Bina Marga dan sebagian dari jumlah itu akan digunakan untuk perbaikan drainase. (Don).